Sumur Gambir merupakan sumber mata air yang terletak di daerah Gambir Randuacir Argomulyo Salatiga. Sumur ini tidak pernah mengering sepanjang tahun. Kalau musim hujan airnya banyak. Sementara kalau musim panas seperti saat ini airnya agak menyusut.
Setiap tahun sumur ini selalu saja didatangi oleh pejabat pemerintahan; mulai dari walikota, anggota DPR, camat, lurah, RW, RT hingga tokoh masyarakat setempat. Di tempat ini pula juga diadakan tradisi nyadran bersama walau hanya dalam skala kecil. Tradisi ini sudah turun-temurun sejak dahulu.
Masyarakat setempat ada yang menyebutnya dengan istilah sumur wali. Sejarah tersebut masih menjadi perdebatan. Mungkin saja sumur itu dulunya dibangun oleh seorang wali tatkala menyebarkan agama Islam. Atas kuasa Tuhan, maka sumur Gambir itu terwujud dan sampai sekarang masih dimanfaatkan oleh sebagian orang.
Kadang ada orang yang bertapa di tempat itu. Dengan mengetuk pintu ketua RT, mereka datang dan izin akan bertapa di sumur itu. Pohonnya lebat dan rindang. Yang bertapa biasanya orang abdi dalem dari kraton Solo dan Yogyakarta.
Saat ada orang kesurupan, kadang juru kunci setempat mendatangi sumur itu. Ia mengambil air dan membawanya ke rumah. Sesampainya di rumah, air tersebut kemudian didoakan oleh juru kunci. Atas izin Tuhan, air yang telah didoakan tersebut akhirnya menjadi perantara menyembuhkan orang yang sakit.
Saat corona melanda, sumur Gambir tetap mengadakan tradisi nyadran. Walau sebenarnya tidak boleh, namun aturan tersebut sedikit dilanggar. Dulu sebenarnya mau tidak diadakan pentas, namun cukup banyak karyawan SCI yang mengalami kerasukan atau gangguan gaib. Yang kesurupan intinya mengatakan bahwa tradisi nyadran harus diadakan, walau tanpa pengeras suara dan dalam skala kecil.
Pada bulan Sapar dalam penanggalan Jawa, tradisi nyadran itu diadakan. Tepatnya pada hari Rabu Pon, gelaran ketoprak itu digelar dalam rangka merti dusun. Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan kesenian ketoprak di tempat yang berbeda.
Menariknya, setiap kegiatan merti dusun pasti dihadiri oleh pejabat pemerintah. Entah maksudnya apa, yang jelas budayanya memang seperti itu. Ketika dulu ikut wilayah Kabupaten Semarang, budayanya memang seperti itu. Tatkala ikut Salatiga pada tahun 1994, ternyata budayanya tidak berubah. Tradisi itu sampai sekarang masih tetap lestari.
Malam hari penontonnya sangat banyak. Pedagang juga sangat banyak. Lalu lintas kendaraan sangat banyak, hingga akhirnya petugas Linmas pun diperbantukan. Ada yang sekedar ingin membeli sesuatu, melihat ketoprak, hingga bertamu ke rumah seseorang. Tatkala tahun kemarin melihat ketoprak, ternyata pengunjungnya sangat banyak. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 26 Juli 2025

Komentar
Posting Komentar