Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.
Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.
Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pembuatannya pun tidak begitu banyak merogoh kantong saku. Sementara rumah dengan menggunakan semen dan batu (gedung), masih tergolong langka. Biaya yang diperlukan untuk membeli bahan bangunan di toko besi pun lebih mahal bila dibandingkan dengan kayu.
Zaman sekarang ternyata bertolak belakang. Umpama ada seseorang yang menggunakan kayu, maka biayanya pun akan merogoh kantong saku yang cukup banyak. Harga kayu sekarang mahal. Apalagi bagi orang yang akan membangun rumah menggunakan bahan utama kayu jati, maka akan semakin mahal oleh karena harga dan kualitas kayu tersebut memang bagus.
Sekarang pun sudah cukup banyak yang membangun rumah yang hanya menggunakan batu bata merah yang ditata rajin tanpa dihaluskan. Setelah itu, biasanya dicat menggunakan plitur. Sehingga kelihatan semakin mengkilap. Selain mengkilap, tampak seperti bangunan klasik atau kuno.
Kembali lagi pada tema di atas yaitu rumah dengan menggunakan batu kali. Kalau di tengah kota dulu pada umumnya banyak yang menggunakan batu bata merah, di kampung kami menggunakan batu kali yang kemudian dipecah-pecah. Sehingga jangan kaget umpama melihat tembok yang sudah agak memudar ternyata isinya adalah pecahan (bongkahan) batu yang tertata rajin.
Ketika saya dulu pergi ke daerah Ampel Boyolali dalam rangka menghadiri acara saparan, ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kebiasaan masyarakat kampung halaman yang membuat rumah dengan menggunakan batu sungai (kali). Ketika itu saya melihat tembok yang sudah mulai rusak. Ketika saya duduk, tembok tersebut ternyata ambrol. Di dalam tembok tersebut terlihat batu yang sudah tertata dengan rapi.
Kini, pemuda dan orang tua sekarang sudah berubah. Saya sudah tidak melihat warga masyarakat yang mencari pasir dan batu di sungai tatkala akan membangun rumah. Umpama melihat, itu pun memang orang yang profesinya mencari batu dan pasir yang kemudian dijual kepada mereka yang membutuhkan. Pada umumnya, mereka membeli batu dan pasir ketika akan membangun rumah. Salam.
Salatiga, 21 Juli 2018

Komentar
Posting Komentar