Banyak yang mengatakan bahwa murid sekarang itu pintar akan tetapi bodoh. Pintar akan hal masalah HP, dan bodoh dalam masalah pelajaran. Banyak ditemukan berita mengenai anak SMP kurang cakap membaca, berhitung dan lain sebagainya. Intinya, bahwa pendidikan sekarang itu boleh dikatakan gagal. Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini?
Kemarin saya bertemu anak SMP. Dengan nada santai, anak itu saya ajak bercanda dan kemudian saya singgung masalah pelajaran di sekolah. Ketika saya tanya satu lusin itu berapa biji, ternyata ia tidak bisa menjawabnya. Ketika saya tanya satu kilogram berapa ons, ternyata juga tidak bisa menjawabnya.
Saya kemudian berpikir, dulu di SD itu diajarkan matematika atau tidak? Ketika ada ujian bisa mengerjakan atau tidak? Nilainya ujian itu asli atau murni hingga akhirnya bisa masuk SMP?
Memang, dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Sejak corona melanda, saya perhatikan mutu atau kualitas pendidikan kita menjadi semakin terpuruk. Ditambah lagi dengan hilangnya UN, maka akan semakin memperburuk suasana dalam dunia pendidikan. Setiap murid pasti lulus karena nilai ujian dibuat oleh sekolah.
Setidaknya ada tiga poin yang saya tangkap mengapa pendidikan kita itu gagal. Ketiga poin tersebut adalah kurikulum, guru di sekolah dan juga paradigma murid zaman sekarang.
Pertama, kurikulum. Kurikulum saat ini adalah student center, dimana pembelajaran yang berfokus pada murid. Siswa dituntut untuk kreatif. Guru hanya sebagai fasilitator belaka dan tidak mempunyai otoritas. Murid mau pintar silahkan, mau tidak pintar ya silahkan.
Ketika anak SD dan SMP diterapkan kurikulum seperti ini jelas akan gagal. Murid dituntut untuk kreatif, yang terjadi justru sebaliknya yaitu malas belajar. Kurikulum yang seperti ini mungkin akan sangat pas tatkala diterapkan untuk anak SMA dan anak kuliah.
Kedua, guru. Karena kurikulumnya itu berpusat pada siswa, maka secara otomatis berimbas terhadap gurunya. Guru mengajar hanya seakan-akan "kewajiban", belum sampai menyentuh "kebutuhan". Apa yang disampaikan guru hanya sebatas ilmu yang dasar semata.
Selain itu, kalau saya perhatikan, banyak juga guru yang kurang serius tatkala mengajar. Ini biasanya berlaku bagi guru muda yang masih milenial. Saat mengajar kadang tidak fokus karena sibuk bermain HP. Lebih dari itu, kadang juga ada yang menjadi seorang konten kreator.
Ketiga, murid itu sendiri. Banyak murid sekarang itu yang pikirannya tidak maju. Tatkala saya tanya tentang pelajaran matematika seperti di atas, ternyata jawabannya sungguh tidak mengindahkan pendengaran. Jawaban tersebut adalah karena tidak disuruh oleh gurunya. Dan jawaban tersebut ternyata sudah umum di kalangan para murid sekolah.
Artinya, murid sekarang itu pikirannya buntu dan tidak maju. Kalau tidak disuruh menghafalkan oleh gurunya, maka tidak menghafalkan. Keinginan untuk pintar dan cerdas ternyata hanya angan-angan belaka.
Realitas di lapangan tentunya tidak semuanya seperti itu. Akan tetapi, dari hal tersebut bisa dilihat bahwa inilah keadaan zaman sekarang. Zaman dimana kemajuan teknologi berkembang begitu pesat namun ternyata berimbas terhadap banyak aspek.
Orang yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh tentunya masih ada, hanya saja mungkin bisa dihitung dengan jari. Faktor lingkungan yang tidak kondusif juga menjadi pengaruh mengapa anak zaman sekarang itu cenderung malas. Ditambah lagi hampir setiap rumah pasang wifi, secara otomatis berimbas terhadap malas belajar dan lebih sibuk berada di depan layar. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 28 Juni 2025
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar