Langsung ke konten utama

Fenomena Hijab

Sejak saya masih kecil, yang namanya orang memakai kerudung (hijab) itu masih minim. Di sekolahan misalnya, tidak ada guru wanita yang memakai kerudung. Umpama dalam satu sekolahan itu ada guru yang memakai kerudung, maka bisa dipastikan bisa dihitung dengan jari. 


Begitu pula dengan kantor-kantor pemerintahan yang lainnya. Orang berkerudung itu boleh dikatakan masih asing. Sebagian besar orang tidak mengenakan kerudung saat bekerja. Justru akan merasa aneh tatkala orang memakai kerudung saat bekerja karena saat itu masih belum lazim. 


Seiring berkembangnya zaman, ternyata berputar seratus delapan puluh derajat. Orang memakai kerudung merupakan mode. Siapa yang tidak memakai kerudung justru dianggap agak aneh. Kerudung merupakan model pakaian masa kini. 


Di sekolahan banyak guru yang memakai kerudung, meskipun itu sekolah milik pemerintah dan bukan yayasan keislaman. Di kantor pemerintahan juga sama. Kalau melihat kantor kepolisian, di situ juga ada Polwan yang memakai kerudung. Tidak ketinggalan, TNI wanita juga sudah ada yang memakai kerudung. 


Sayangnya, sebagian orang menutup kerudung itu bukan dianggap sebagai kewajiban menutup aurat melainkan karena mode atau mengikuti arus perkembangan zaman. Menutup kerudung dianggap pakaian biasa bagi wanita. Bahkan, maaf, PSK zaman sekarang pun sudah ada yang memakai kerudung. Memakai kerudung bukan karena takut akan agama, melainkan karena pakaian atau fashion zaman sekarang. 


Sebatas yang saya tahu, memakai kerudung itu tidak wajib. Yang wajib adalah menutup aurat. Jadi, menutup kepala dengan menggunakan daun pisang misalnya, sebenarnya tidak masalah. Namun demikian, di sana ada norma, ada nilai kepantasan yang harus dilakukan oleh seorang wanita. Umpama ada wanita yang memakai hijab dengan menggunakan daun pisang, mungkin masyarakat akan menganggap bahwa wanita tersebut adalah orang gila atau kurang genap.


Karena sudah merupakan mode, maka akhirnya dianggap sudah biasa. Banyak wanita yang berkerudung, namun ternyata tidak melaksanakan shalat. Pertanyaannya adalah manakah yang harus didahulukan antara kewajiban dan mengikuti trend masa kini? 


Kebetulan, saya pernah melemparkan pertanyaan kepada seorang kawan. Saya bertanya karena melihat seorang wanita yang tidak memakai kerudung saat bekerja. Wanita tersebut selalu memakai topi. Rambutnya pun diikat dan kemudian dimasukkan ke dalam topi saat bekerja. Namun dari itu wanita tersebut ternyata malah tertib shalat lima waktu. Ketika adzan berkumandang, wanita tersebut izin sejenak dan kemudian melakukan shalat dzuhur. 



Saya kemudian bertanya kepada teman, bagus yang mana antara orang tidak berkerudung namun tertib shalat bila dibandingkan dengan orang berkerudung namun tidak shalat? Teman saya kemudian hanya senyum dan tidak mau menjawabnya. Tetapi, dari situ saya akhirnya menangkap bahwa teman saya itu sebenarnya bingung. Takut menjawab karena salah. Padahal saya tidak membutuhkan benar atau salah. Yang saya butuhkan adalah kecerdasan dalam menjawab pertanyaan. 


Kata kyai kampung saat berceramah, orang yang paling mulia disisi Tuhan adalah orang yang bertakwa. Semakin tinggi ketakwaan seseorang, maka akan semakin mulia disisi Tuhan. Mana yang paling mulia antara shalat lima waktu dan memakai hijab? Semoga bermanfaat. 


Salatiga, 15 Mei 2025

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...