Di saat Indonesia sedang menggencarkan buku digital, negara maju seperti Finlandia justru kembali ke buku cetak. Setelah Finlandia, kemudian diikuti oleh negara Swedia. Pemerintah rela menggelontorkan dana besar guna menyukseskan pengadaan buku cetak seperti zaman dahulu.
Aneh, memang. Saat zaman sudah semakin canggih, negara maju justru kembali ke sistem tradisional seperti pesantren. Membaca buku cetak justru digulirkan kembali layaknya zaman kuno. Lantas apa keunggulannya?
Membaca buku cetak jelas tidak pedih di mata. Mata siswa justru aman karena tidak terkena cahaya yang ditimbulkan oleh laptop atau tablet.
Membaca buku cetak juga lebih serius karena mata hanya fokus terhadap buku. Membaca buku cetak juga lebih konsentrasi karena buku itu tidak bisa menyambung dengan internet. Lain halnya kalau membaca buku digital, jelas kurang fokus karena pikiran dan mata biasanya tertuju pada dunia yang lain yaitu dunia maya.
Kalau kita melihat sekolah, saya sendiri kadang bingung. Pasalnya peserta didik sudah jarang menulis. Menulis tetap menulis, sayangnya sudah jarang. Buku yang saya lihat justru lebih banyak yang kosong.
Menulis dengan tangan inilah yang sesungguhnya jauh lebih penting. Tak salah kalau Finlandia dan Swedia justru kembali menggerakkan budaya menulis tangan kembali. Menulis dengan tangan jelas lebih bermutu dari pada menulis dengan laptop. Apa yang ditulis dengan tangan biasanya akan lebih mudah diingat dari pada menulis melalui laptop. Menulis dengan tangan juga bisa menghindari plagiasi yang sudah merajalela.
Menulis dengan tangan manual juga lebih fokus dan terstruktur. Apa yang ditulis biasanya urut dan tidak tergesa-gesa. Ketika peserta didik menulis menggunakan media online seperti WA atau SMS, biasanya bahasanya tidak urut atau tidak mengikuti kaidah yang baku. Apa yang ditulis biasanya terburu-buru dan bahasanya singkat serta kacau.
Oleh sebab itu, negara Indonesia tampaknya perlu mengikuti Finlandia dan Swedia. Meskipun mungkin kelihatan katrok, namun manfaatnya sesungguhnya jauh lebih besar. Kalau dicermati secara mendalam, justru pendidikan yang tradisional itu berasal dari pondok pesantren yang menurut catatan sejarah adalah lembaga yang tertua yang ada di Indonesia. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 21 Januari 2025

Komentar
Posting Komentar