Kasus di Semarang yang mana seorang siswa SMK menjadi korban tembak dan berujung tewas menambah potret anggota Polri dalam menangani perkara yang ada di masyarakat. Polisi beranggapan bahwa mereka membubarkan anggota geng motor. Di satu sisi, teman korban dan keluarga merasa ada yang janggal atas insiden ini.
Dalam berita yang beredar, korban menyerang polisi terlebih dahulu. Artinya, polisi tersebut ibarat membela diri karena mau diserang. Sementara teman korban dan keluarga korban mempunyai cerita versi yang berbeda.
Korban pamit pada orang tuanya kalau akan silat. Sementara penjelasan polisi adalah membubarkan acara tawuran. Artinya, dilihat secara sederhana saja sudah tidak cocok pernyataan keduanya. Memang, silat kadang berujung tawuran, namun tidak semuanya seperti itu.
Setelah kejadian itu, pihak Polrestabes Semarang mendatangi keluarga korban. Intinya, keluarga korban disuruh ikhlas atas insiden tersebut. Pihak Polrestabes juga meminta agar tidak membesar-besarkan kasus tersebut, terutama dalam media sosial.
Pihak keluarga akhirnya menolak tawaran tersebut. Keluarga menginginkan keadilan agar dijunjung tinggi. Pihak keluarga akhirnya membuat laporan ke tingkat yang lebih atas yaitu Polda.
Bila melihat kasus tersebut, sesungguhnya sangat aneh. Pihak kepolisian seakan-akan menutupi kasus tersebut. Pihak kepolisian seakan-akan menyuruh keluarga korban agar membungkam kasus tersebut. Harapannya agar kasus tersebut hilang dan nama institusi Polri tetap menjadi bersih.
Begitulah. Oknum Polri berulah selalu saja ada. Kisah tersebut hanya satu contoh kecil. Di luar sana mungkin masih sangat banyak. Kasus tersebut mencuat ibarat karena apes terkena pengaruh media sosial. Umpama tidak, maka biasanya akan hilang bersama derai angin. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 1 Desember 2024

Komentar
Posting Komentar