Tradisi mencuri start merupakan sebuah budaya yang biasa dilakukan oleh para politikus. Meski hal itu adalah melanggar aturan, namun realitasnya di lapangan memang seperti itu. Memasang gambar ditengarai sebagai jalan yang paling tepat agar lebih mudah dikenal luas oleh masyarakat.
Ketika sudah dibersihkan oleh petugas satpol PP, tidak masalah. Gambar tersebut telah dilepas, misalnya, namun gambar tersebut esok harinya dipasang lagi. Dengan menyuruh para simpatisannya, gambar tersebut akan mudah terpasang lagi. Memasangnya pun biasanya dilaksanakan pada waktu malam hari.
Mengapa malam hari? Dalam pandangan yang umum, mungkin orang berpikiran bahwa malam hari adalah waktu yang sudah tidak panas. Dengan waktu tersebut para pemasang gambar akan lebih leluasa dalam memasang gambar. Para pemasang gambar juga tidak akan merasa tergesa-gesa karena dilakukan dalam keadaan sepi dari lalu-lintas kendaraan.
Bagi saya pribadi, mengapa mereka memasang gambar pada malam hari adalah karena memang mereka itu merasa bersalah. Karena mereka ketakutan melakukan kesalahan, maka mereka pun menghindar dari kebanyakan orang. Malam hari pun dipilih. Selain karena sepi, juga akan aman dari pandangan atau cemoohan masyarakat.
Logikanya, malam hari adalah gelap. Sebenarnya sudah ada lampu jalan, namun tetap agak redup. Memasang gambar atau baliho biasanya dilengkapi dengan lampu cadangan agar kelihatan jelas. Ketika memasang paku yang kecil pun biasanya harus dengan bantuan lampu cadangan.
Lain halnya dengan satpol PP, misalnya, mereka mencopot baliho pada waktu siang hari. Mengapa demikian? Apa yang dilakukan satpol PP adalah benar dan tidak melanggar aturan yang berlaku. Mereka telah sesuai dengan SOP yang dikeluarkan tatkala mencopot baliho. Mereka pun tidak malu lantaran apa yang mereka lakukan adalah tidak melanggar aturan.
Gambar di atas adalah yang pertama kali di Salatiga. Dalam penelusuran saya, gambar itu merupakan yang paling awal memasang gambar. Jumlahnya pun cukup banyak dan tersebar dimana-mana. Sebagaimana lazimnya, gambar itu berharap agar dikenal luas oleh warga masyarakat. Selain itu, harapannya juga agar menjadi seorang kepala daerah.
Gambar yang lain sebenarnya juga banyak. Hanya saja, Luqman Hakim memang sudah menguasai gambar sedari awal. Meski orang Salatiga belum banyak yang tahu, namun kalau gambar tersebut sudah tersebar di berbagai tempat akhirnya membuat warga masyarakat menjadi tahu. Minimal paling tidak tahu tentang gambarnya.
Sejak sebelum pemilihan presiden, gambar tersebut sudah cukup banyak. Di jalan raya sangat banyak. Di perkampungan juga tidak kalah. Di jalan raya sudah banyak yang dicopot tatkala menjelang pilpres. Sementara yang di kampung masih banyak yang terpampang. Logikanya, mana mungkin satpol PP masuk ke kampung?
Gambar itu hilang. Kini selepas Idul Fitri, gambar tersebut juga banyak bermunculan lagi. Tulisannya sederhana yaitu mengucapkan selamat Idul Fitri. Gambar tersebut juga menggunakan kalimat yang khas yaitu Kita Semua Saudara.
Begitulah wajah demokrasi di negeri ini. Tradisi mencuri start telah berkembang dan menjadi budaya di negeri ini. Meski hal itu salah, namun sudah membudaya dan mengakar kuat. Budaya yang sebenarnya salah namun akhirnya menjadi lumrah. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 27 Juli 2024

Komentar
Posting Komentar