Tadi malam, saya memang sengaja menyempatkan diri untuk melihat ketoprak di daerah Tetep Randuacir Argomulyo Salatiga dalam rangka gebyar saparan merti dusun. Karena sudah cukup lama tidak melihat ketoprak, maka melihatnya pun terasa lebih indah. Dalam pandangan yang umum, yang namanya saparan biasanya dilengkapi dengan seni kuda kepang.
Karena ketoprak sudah semakin langka, maka pengunjung pun cukup banyak. Banyak anak kecil, remaja, orang tua hingga simbah-simbah yang menyaksikan pertunjukan ini. Mereka sangat antusias menikmatinya. Ada yang hanya melihat sebentar. Ada pula yang sampai selesai.
Acara diawali dengan sambutan oleh bapak camat Argomulyo. Beliau berpesan agar menjaga keamanan lingkungan. Beliau mengingatkan untuk selalu mematikan kompor tatkala keluar rumah. Beliau juga berpesan agar selalu mencintai budaya.
Setelah acara dimulai, maka semakin gayeng. Penonton pun menjadi semakin banyak. Ada yang menonton sambil duduk karena panitia sudah menyiapkan terpal besar yang dikhususkan untuk duduk. Ada pula yang menonton sambil berdiri. Tidak ketinggalan, banyak juga yang menggunakan jaket sebagai penutup tubuh.
Saya kurang tahu persis siapa lakonnya dan apa temanya karena suara musik dengan suara pemain ketoprak tinggi volumenya hampir sama. Tetapi saya menangkap bahwa inti dari cerita tersebut adalah seorang suami istri yang sering bertengkar setiap hari. Suaminya bekerja dengan upah 30 ribu per hari. Sementara anak semata wayangnya, pekerjaannya hanya mancing di sungai meski sudah lulus SMA.
Suatu saat, sang suami pulang ke rumah. Ia marah-marah karena istrinya tidak berada di rumah. Ketika ditanya, ternyata istrinya sedang meminjam beras kepada tetangganya. Istrinya berpikir untuk hari esok karena uangnya sudah habis.
Suaminya akhirnya marah. Istrinya juga marah. Cek cok pun akhirnya terjadi. Istrinya menuntut pada suaminya. Sementara suaminya juga protes karena menganggap bahwa istrinya merupakan orang yang kurang bersyukur. Ditambah anaknya yang hanya berprofesi sebagai tukang mancing ikan di sungai, maka akan semakin memperkeruh suasana.
Berawal dari itu, akhirnya mereka bertiga sepakat agar anaknya bekerja. Mereka bertiga akhirnya bertemu dengan Pak Demang, seorang saudagar kaya yang berada di desanya. Ketika menemui Pak Demang, ternyata tidak ada pekerjaan yang kosong.
Pak Demang mengatakan bahwa pekerjaan sebagai kuli saat ini sudah terpenuhi semuanya. Kata Pak Demang, kalau ibunya mau bekerja malah ada lowongan. Ketika ditanya kembali, ternyata jawabannya malah kurang mengindahkan yaitu sebagai istri yang kedua.
"Saya sudah punya suami Pak Demang. Saya pergi ke sini mau mencarikan pekerjaan untuk anakku. Apapun pekerjaannya Pak Demang, minta tolong, anakku agar bekerja di tempat ini, bukan aku," pintanya sambil meneteskan air mata.
Karena sudah semakin malam, maka saya akhirnya memutuskan untuk pulang. Pukul sepuluh malam saya pamit diri dan meninggalkan arena pertunjukan seni ketoprak. Mata sudah ngantuk dan dipaksa untuk begadang ternyata tidak bisa.
Dari kisah cerita itu saya akhirnya membayangkan bahwasanya kisah itu diambil dari contoh yang ada di masyarakat. Pekerjaan menjadi semakin susah. Ketika ada pekerjaan, ternyata gajinya malah seenaknya sendiri. Gaji yang kecil seperti di atas sesungguhnya jauh berada di bawah UMR.
Dari kisah itu pula mungkin ada pihak-pihak tertentu yang ingin disindir, terutama kaum elit. Disadari atau tidak, bangsa Indonesia sampai saat ini masih dikuasai oleh warga China. Warga China mempunyai banyak modal dan menguasai wilayah perkotaan. Boleh dikatakan bangsa Indonesia hidup di negerinya sendiri namun malah menjadi babu. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 15 Agustus 2024

Komentar
Posting Komentar