Langsung ke konten utama

Saparan Tetep Randuacir 2024



Tadi malam, saya memang sengaja menyempatkan diri untuk melihat ketoprak di daerah Tetep Randuacir Argomulyo Salatiga dalam rangka gebyar saparan merti dusun. Karena sudah cukup lama tidak melihat ketoprak, maka melihatnya pun terasa lebih indah. Dalam pandangan yang umum, yang namanya saparan biasanya dilengkapi dengan seni kuda kepang. 


Karena ketoprak sudah semakin langka, maka pengunjung pun cukup banyak. Banyak anak kecil, remaja, orang tua hingga simbah-simbah yang menyaksikan pertunjukan ini. Mereka sangat antusias menikmatinya. Ada yang hanya melihat sebentar. Ada pula yang sampai selesai. 


Acara diawali dengan sambutan oleh bapak camat Argomulyo. Beliau berpesan agar menjaga keamanan lingkungan. Beliau mengingatkan untuk selalu mematikan kompor tatkala keluar rumah. Beliau juga berpesan agar selalu mencintai budaya. 


Setelah acara dimulai, maka semakin gayeng. Penonton pun menjadi semakin banyak. Ada yang menonton sambil duduk karena panitia sudah menyiapkan terpal besar yang dikhususkan untuk duduk. Ada pula yang menonton sambil berdiri. Tidak ketinggalan, banyak juga yang menggunakan jaket sebagai penutup tubuh. 


Saya kurang tahu persis siapa lakonnya dan apa temanya karena suara musik dengan suara pemain ketoprak tinggi volumenya hampir sama. Tetapi saya menangkap bahwa inti dari cerita tersebut adalah seorang suami istri yang sering bertengkar setiap hari. Suaminya bekerja dengan upah 30 ribu per hari. Sementara anak semata wayangnya, pekerjaannya hanya mancing di sungai meski sudah lulus SMA. 


Suatu saat, sang suami pulang ke rumah. Ia marah-marah karena istrinya tidak berada di rumah. Ketika ditanya, ternyata istrinya sedang meminjam beras kepada tetangganya. Istrinya berpikir untuk hari esok karena uangnya sudah habis. 


Suaminya akhirnya marah. Istrinya juga marah. Cek cok pun akhirnya terjadi. Istrinya menuntut pada suaminya. Sementara suaminya juga protes karena menganggap bahwa istrinya merupakan orang yang kurang bersyukur. Ditambah anaknya yang hanya berprofesi sebagai tukang mancing ikan di sungai, maka akan semakin memperkeruh suasana. 


Berawal dari itu, akhirnya mereka bertiga sepakat agar anaknya bekerja. Mereka bertiga akhirnya bertemu dengan Pak Demang, seorang saudagar kaya yang berada di desanya. Ketika menemui Pak Demang, ternyata tidak ada pekerjaan yang kosong. 


Pak Demang mengatakan bahwa pekerjaan sebagai kuli saat ini sudah terpenuhi semuanya. Kata Pak Demang, kalau ibunya mau bekerja malah ada lowongan. Ketika ditanya kembali, ternyata jawabannya malah kurang mengindahkan yaitu sebagai istri yang kedua. 


"Saya sudah punya suami Pak Demang. Saya pergi ke sini mau mencarikan pekerjaan untuk anakku. Apapun pekerjaannya Pak Demang, minta tolong, anakku agar bekerja di tempat ini, bukan aku," pintanya sambil meneteskan air mata. 


Karena sudah semakin malam, maka saya akhirnya memutuskan untuk pulang. Pukul sepuluh malam saya pamit diri dan meninggalkan arena pertunjukan seni ketoprak. Mata sudah ngantuk dan dipaksa untuk begadang ternyata tidak bisa. 


Dari kisah cerita itu saya akhirnya membayangkan bahwasanya kisah itu diambil dari contoh yang ada di masyarakat. Pekerjaan menjadi semakin susah. Ketika ada pekerjaan, ternyata gajinya malah seenaknya sendiri. Gaji yang kecil seperti di atas sesungguhnya jauh berada di bawah UMR. 


Dari kisah itu pula mungkin ada pihak-pihak tertentu yang ingin disindir, terutama kaum elit. Disadari atau tidak, bangsa Indonesia sampai saat ini masih dikuasai oleh warga China. Warga China mempunyai banyak modal dan menguasai wilayah perkotaan. Boleh dikatakan bangsa Indonesia hidup di negerinya sendiri namun malah menjadi babu. Semoga bermanfaat. 


Salatiga, 15 Agustus 2024 

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...