Langsung ke konten utama

Penerapan FDS

Sudah sekitar seminggu saya melihat sekolah mulai dari SD, SMP hingga SMA sepi. Dikatakan sepi karena memang libur. Sekolah hanya masuk selama lima hari. Artinya, libur di rumah selama dua hari yaitu hari Sabtu dan Minggu. 


Kebijakan tersebut tentu menuai pro dan kontra. Bagi yang setuju, tentu tidak masalah. Bagi yang tidak setuju, tentu hal ini akan menjadi masalah baru tersendiri. Orang tua mungkin malah akan semakin khawatir dengan anak-anaknya. 


Salatiga telah menerapkan kebijakan tersebut. Ketika menelpon saudara di Magelang, ternyata juga sama. Saat saya menelpon saudara di Batang, ternyata berbeda. Sekolah di Kabupaten Batang pada hari Sabtu tetap masuk. Kabupaten Batang ternyata masih menerapkan kurikulum yang lama yakni sekolah selama enam hari. 


Bagi kaum pedesaan yang wilayah santri, jelas akan bingung. Kaum pedesaan biasanya tradisi mengaji di TPQ atau Madin masih kuat. Anak biasanya pulang sampai siang hari. Selepas itu biasanya istirahat sejenak dan dilanjutkan dengan sekolah TPQ. Apabila FDS diterapkan, maka jelas akan mengganggu keberadaan TPQ dan Madin. 


Saya kadang berpikir, bagaimana tatkala pemerintah membuat kebijakan? Apakah memang disetting agar bangsa ini menjadi semakin kacau? Apakah semua ini ada dalangnya? 


Kita lihat saja nanti hasilnya. Apabila hasilnya bagus, maka mungkin boleh dilanjutkan. Sementara apabila gagal maka perlu dikaji ulang kebijakan tersebut. FDS diterapkan layaknya orang bekerja di kantor pemerintah dan bank yakni kerja selama lima hari. Setelahnya libur di rumah. 


Bagi yang bisa menggunakan waktu dengan positif, maka libur selama dua hari merupakan waktu yang sangat baik. Sebaliknya jika tidak bisa memanfaatkannya, maka jelas akan mengganggu kreatifitas anak-anak. Sayangnya, godaannya biasanya jauh akan sangat lebih besar daripada dampak positifnya. 


Libur selama dua hari jelas akan mengganggu mental mereka. Orang tua yang mempunyai wifi di rumah, maka jelas akan kerepotan tatkala melihat anaknya yang hanya melihat HP selama dua hari. Anak jelas akan malas. Kalau tidak hati-hati, maka mata anak juga rawan akan penyakit karena dampak yang ditimbulkan oleh sinar layar HP. 


Ini merupakan PR bersama bagi orang tua dan lingkungan. Sekolah yang sampai sore sebenarnya kurang efektif. Anak biasanya ketika pulang akan tidur karena capek. Kalau sudah tidur biasanya akan lupa atau tidak mengenal tetangganya. Anak yang "dilatih" untuk tidak mengenal tetangga sesungguhnya jauh lebih berbahaya karena bisa menciptakan sikap individualisme. Semoga bermanfaat. 


Salatiga, 31 Juli 2024 

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...