Ketika sedang melihat televisi, saya mendengar suara dari luar rumah. Suara itu berbunyi, "awas..jatuh, jatuh, jatuh..kecemplung kalen." Mendengar kalimat tersebut saya akhirnya berpikir bahwasanya pembuat kalimat seharusnya belajar bahasa Indonesia secara baik dan benar. Niatnya mengajari cucunya berbahasa Indonesia, namun nuansa Jawa-nya ternyata masih kuat.
Kalau saya perhatikan, cukup banyak warga masyarakat yang berbahasa Indonesia namun penuh dengan gaya yang kurang pas. Harapannya agar anaknya bisa berbahasa Indonesia dengan bagus, namun disitu terlihat budaya kesombongan. Maksudnya, agar kelihatan pintar berbahasa namun orang tuanya sendiri sebenarnya belum cakap tatkala berbicara bahasa Indonesia.
Saya juga pernah mendengar secara langsung ketika sedang berbelanja di pasar. Ketika itu ada seorang wanita yang sedang berbicara kepada temannya. Kalimat yang saya dengar adalah, "Kemarin wingi saya tidak jadi sido pergi ke Jakarta." Saya pun terdiam dan tertawa di dalam hati.
Siapa pun yang mendengar kalimat itu mungkin akan tertawa. Kata "kemarin" dan "wingi" sebenarnya mempunyai arti yang sama. Kata yang pertama merupakan kata dalam bahasa Indonesia, sementara kata yang kedua merupakan ejaan dalam bahasa Jawa. Begitu pula kata "jadi" dan "sido".
Saya melihat, ada sebagian warga masyarakat yang sok kelihatan gaul. Bekerja atau merantau ke Jakarta selama tiga bulan, misalnya, setelah pulang ke kampung halaman kadang menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa percakapannya sehari-hari pun kadang diubah, dari bahasa Jawa menjadi bahasa Indonesia. Mungkin, agar kelihatan lebih kota ketika dipandang oleh tetangga sekitarnya.
Sayangnya, penggunaan bahasa tersebut kadang masih rancau dan diselimuti sifat kesombongan. Harapannya agar terlihat gaul, ternyata yang mendengarkan malah tertawa dengan sendirinya. Yang mendengar mungkin akan berkata di dalam hatinya. Ungkapan yang saat ini sering digunakan adalah "kemenyek".
Gunakanlah bahasa dengan baik dan benar. Kalau bisa berbahasa Indonesia, maka gunakanlah bahasa tersebut. Kalau tidak bisa, cukup menggunakan bahasa lokal. Karena orang Jawa, maka gunakanlah bahasa Jawa dengan baik dan benar. Justru dengan bahasa Jawa itulah malah akan semakin terlihat mencintai budaya lokal.
Bahasa Indonesia (melayu) hanyalah bahasa pemersatu bangsa. Semua suku yang ada di Indonesia boleh menggunakan bahasa tersebut agar saling mengerti dan paham. Namun dari itu, bahasa lokal itulah yang sesungguhnya jauh lebih sopan dan bermutu. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 4 Agustus 2024
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar