Langsung ke konten utama

Preseden Buruk Bagi Polri



Pegi Setiawan akhirnya menang di sidang praperadilan Pengadilan Negeri Bandung. Pegi Setiawan yang diduga kuat adalah Pegi Perong, ternyata salah tangkap. Tapi mengapa Polda Jabar begitu yakin kalau Pegi Setiawan adalah tersangkanya? Mengapa hakim malah memenangkan Pegi Setiawan? 


Bila mendengarkan banyak cerita dari mantan narapidana, maka sungguh sangat memalukan. Banyak orang yang salah tangkap. Ironisnya, kadang memang ada yang sengaja dibuat "tumbal" guna kenaikan pangkat jabatan. 


Bagaimana tidak mengakui salah kalau sudah digebuki semena-mena? Orang yang sebenarnya tidak bersalah akhirnya mengaku menjadi tersangka setelah ditangkap dan disuruh mengaku menjadi tersangka. Tidak sampai di situ, banyak juga yang jempol kakinya diinjak menggunakan kaki kursi yang tentunya sangat sakit. Dari pada sakit yang berkelanjutan, maka jalan pintas yaitu mengaku menjadi tersangka akhirnya diucapkan. 


Gara-gara ulah Polda Jabar, maka tentu nama institusi Polri menjadi tercemar kembali. Setelah Sambo sempat mereda, kini akhirnya muncul kembali bagaimana taktik oknum kepolisian menggemparkan masyarakat. Menggemparkan masyarakat namun dalam hal keburukan. Satu yang membuat ulah namun dampaknya merambat sampai ke sebuah institusi. 


Memang, citra Polri dalam benak masyarakat sebenarnya kurang bagus. Contoh sederhananya, seorang pensiunan Polri ketika melamar sebagai anggota satpam maka sangat sulit diterima. Entah dari mana itu sumbernya, namun cerita yang seperti sudah menjalar sampai ke masyarakat. 


Pertanyaannya, kalau sampai Pegi bebas, maka bagaimana dengan delapan terpidana lainnya yang sudah mendekam di jeruji penjara selama 8 tahun lamanya? Inikah yang namanya korban salah tangkap? Atau inikah yang namanya korban kebiadaban orang-orang elit yang mempunyai kepentingan? 


Stigma masyarakat tentang Polri yang buruk sebenarnya bukan tanpa dasar. Masyarakat sudah banyak yang mengetahui kalau pungutan liar sampai sekarang masih merajalela. Dengan dalih "mengamankan", maka menjadi modal empuk untuk mencari uang pungutan. 


Sejak dulu sampai sekarang kasus pungutan liar sangat sulit dihilangkan. Bahkan, mungkin tidak bisa diberantas. Umpama diberantas, maka hanya formalitas belaka. Selepas itu biasanya akan kembali seperti sedia kala. 


Bisa saja pungutan liar itu dihilangkan, namun membutuhkan waktu yang tidak sederhana. Selama perekrutan anggota baru masih ada istilah NPWP (nomer piro wani piro), maka budaya pungli akan tetap mengakar di institusi tersebut. Dampaknya, kadang warga masyarakat yang harus menjadi korban. 


Kasus Pegi hanya segelintir kecil yang ada di Nusantara. Bila kroscek ke Polsek, maka sungguh sangat banyak kasus yang akhirnya hilang. Mengapa hilang? Karena tidak sampai viral. Umpama viral, mungkin akan seperti Pegi Setiawan, yang mana pusat akan turun tangan. 


Umpama Pegi tidak viral, maka mungkin kasusnya akan hilang. Sayangnya, Pegi ibarat masih beruntung. Tuhan masih berpihak pada Pegi Setiawan. Sementara Polri harus menanggung malu dan bersiap memperbaiki citranya agar preseden buruk tidak melekat lagi. Semoga. 


Salatiga, 9 Juli 2024 

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...