Hilangnya Ujian Nasional (UN) tentunya menimbulkan dampak yang positif dan juga negatif. Kehadiran dan kehilangan UN juga menimbulkan pro dan kontra. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Saat ini, UN telah tiada. Semua peserta didik hampir bisa dipastikan lulus. Peserta didik yang kurang cakap akhirnya bisa menjadi lulus sekolah. Sekolah mempunyai wewenang untuk memberikan nilai pada peserta didiknya yang telah mengikuti ujian akhir yang hampir mirip dengan UN.
Dulu, ketika UN masih berlaku, banyak peserta didik yang merasa was-was. Kelulusan peserta didik hanya ditentukan oleh tiga hari selama mengikuti ujian. Apabila nilainya UN bagus, maka akan lulus. Tatkala nilainya berada di bawah nilai yang telah ditentukan oleh pemerintah, maka peserta didik yang bersangkutan tidak lulus sekolah.
Kebijakan tersebut dianggap terlalu radikal. Dianggap demikian karena sekolah selama tiga tahun namun ternyata hanya ditentukan oleh tiga hari tersebut. Banyak yang memprotes kebijakan tersebut, hingga akhirnya UN akhirnya ditiadakan.
Namun dari itu, dimata dunia Indonesia tentu masih ada harganya. Perjuangan UN yang tidak sederhana tentunya membawa nama harum bagi Indonesia sendiri. Les-les pun banyak yang berkembang. Sekolah sampai sore yang diselenggarakan oleh sekolah pun akhirnya digerakkan, dengan harapan agar mendapatkan nilai yang bagus dan pada urutannya lolos mengikuti UN.
Tidak sampai di situ saja. Banyak sekolah yang juga mengadakan kegiatan mujahadah bersama. Setiap peserta didik yang beragama Islam disuruh hadir ke sekolah pada malam hari. Pada malam itu peserta didik diajak dan dibimbing untuk mengikuti shalat hajat secara berjamaah. Setelah selesai berdzikir, maka setiap peserta didik dianjurkan langsung meminta pada Tuhan agar dimudahkan serta lolos dalam menghadapi UN.
Setelah kebijakan itu berubah, maka saya pribadi mengamati bahwa kebijakan seperti dulu kiranya perlu diputar atau dipraktikkan kembali. Banyak siswa yang kurang jenius dan manja akan pelajaran. Kurang jenius karena pelajaran di sekolah seakan-akan hanya formalitas belaka. Juga disebut manja karena mereka berpikiran pasti akan lulus sekolah.
Saya pribadi kurang setuju dengan model seperti ini. Kiranya pemerintah perlu merekonstruksi ulang kurikulum yang telah ada ini. Perlu evaluasi diri agar di kemudian hari kualitas peserta didik tidak semakin terpuruk seperti sekarang ini.
UN perlu diimplementasikan lagi di negeri ini. UN sesungguhnya mengajak dan membimbing peserta didik agar semangat, tidak mudah menyerah dan berpikiran maju dalam menghadapi kehidupan di masa depan yang memang sangat sulit diprediksi. Sekali lagi, UN perlu digerakkan kembali. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 14 Juli 2024
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar