Langsung ke konten utama

Vina, Joshua dan Korban Kebiadaban Wong Elit



Bila melihat kasus Vina Cirebon, sesungguhnya sangat memalukan. Dikatakan seperti itu karena kejadian pada tahun 2016 namun baru terungkit kembali pada tahun 2024. Artinya, sudah delapan tahun kasus tersebut mangkrak di tengah jalan. 


Kalau umpama kasus Vina Cirebon tidak difilmkan, mungkin akan kabur bersama derai angin. Setelah film tersebut ditayangkan, dengan segera polisi berhasil menangkap beberapa tersangka. 


Dalam berita yang beredar, sebelum film itu tayang, pihak keluarga Vina didatangi oleh dua orang oknum yang meminta agar film tersebut tidak diputar. Keluarga Vina pun sebenarnya sudah paham kalau diputar maka akan ada institusi yang namanya akan tercemar. Karena merasa sebagai korban kaum elit, maka keluarga Vina pun dengan berani memberikan izin agar film tersebut bisa segera diputar. Harapannya agar keadilan segera terungkap. 


Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya keluarganya Vina, terutama orang tuanya. Vina merupakan korban kebiadaban yang sungguh sangat tidak manusiawi. Selain diperkosa, Vina juga dibunuh secara bersama-sama oleh orang yang tidak bertanggung jawab. 


Kasus Vina sebenarnya hampir mirip dengan Joshua Hutabarat, yang mana korban orang atas. Hanya saja pelaku utama pembunuhan Joshua segera terungkap setelah Presiden Jokowi memerintahkan pada Kapolri agar mengurusi kasus Joshua. Sambo pun ditetapkan sebagai tersangka utama dengan vonis hukuman mati, meski pada akhirnya mendapatkan keringanan menjadi seumur hidup. 


Umpama Presiden Jokowi tidak memerintahkan, mungkin kasusnya juga akan hilang. Sayangnya, kata orang Jawa, Sambo "ketiban apes". Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh. Sebusuk apapun bangkai pasti akan mengeluarkan bau. Hari sial itulah dalam pandangan orang Jawa yang tidak bisa dilewati oleh manusia. 


Dalam pandangan mantan Menkopolhukam, Prof. Mahfud MD, kasus Sambo sebenarnya sangat sepele. Kasus tersebut sebenarnya hanya wilayah tingkat Polsek, tidak perlu melibatkan Polres, Polda apalagi Mabes Polri. Mengapa Mabes turun tangan, karena banyak kejanggalan. Polisi yang berada di bawah sudah ditekan oleh yang berada di atas. Lagi pula, mana ada seorang polisi tingkat bawah yang berani menyelidiki seorang jenderal berbintang dua? 


Dalam pandangan yang umum, kasus pembunuhan biasanya sangat mudah dilacak. Pelaku pembunuhan biasanya mudah segera tertangkap. Dalam olah TKP, Polisi biasanya dibantu dengan anjing pelacak dan tim ahli. Inilah yang kemudian memudahkan polisi menangkap pelaku. Kemana pun perginya, biasanya tersangka akan mudah diborgol dan selanjutnya dimasukkan ke dalam jeruji penjara. 


Dalam dunia keislaman, arwah itu sebenarnya tidak mati namun pindah alam. Yang mati hanya jasadnya. Bagi orang tertentu yang diberi kelebihan oleh Tuhan, akan sangat mudah berbicara dengan arwah orang yang telah meninggal dunia. Atas dasar ini, maka sebenarnya pelaku pembunuhan sangat mudah ditangkap. 


Sayangnya, dalam beberapa kasus, ada banyak kepentingan di dalamnya. Ada orang-orang tertentu yang memang melindungi atau menutupi kasus tersebut. Kasus Vina dan Joshua hanya segelintir contoh yang ada di negeri ini. Kalau mau survei ke desa, mungkin ada puluhan, ratusan atau bahkan ribuan kasus yang mangkrak di tengah jalan. Warga masyarakat sudah melaporkan kasus yang serupa, atau hampir serupa, namun mandeg di tengah jalan. 


Sebagai warga kecil memang serba susah. Demokrasi yang katanya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, dalam tataran implementasi ternyata tak seindah membalikkan telapak tangan. Siapa yang punya duit maka akan tetap menang. Sementara yang tidak punya duit maka akan kalah, atau mungkin malah akan menjadi korban kebiadaban orang-orang elit yang mempunyai kepentingan tertentu. Semoga bermanfaat. 


Salatiga, 27 Mei 2024 

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...