Membicarakan kaum pajero laksana orang makan, yang mana tak pernah merasa kenyang. Manusia selalu saja kenyang, akan tetapi nanti pasti akan makan lagi tatkala lapar. Begitu pula kaum pajero, saat ini mungkin tidak menjadi perbincangan, namun di kemudian hari akan menjadi perbincangan lagi seiring kemajuan zaman.
Dalam hal ini, saya sedikit mempunyai pengalaman menarik akan kaum pajero dalam hal berpakaian. Dilihat dari mata sebenarnya kurang pas. Begini sedikit ceritanya.
Suatu saat saya pernah menjadi dewan juri rebana tingkat Kabupaten Semarang. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 2015 dan bertempat di MTs Susukan. Kala itu semua sekolah setingkat SMP bisa mengikuti perlombaan rebana.
Saya yang ketika itu menjadi dewan juri ternyata disuguhkan oleh pemandangan yang kurang enak. Ada sebuah sekolah milik kaum pajero yang ternyata juga mengikuti rebana modern. Di situ saya berpikir yang agak aneh. Lumrahnya kaum pajero, biasanya tidak mengadakan ekstrakurikuler rebana. Dalam pandangan mereka, rebana itu bid'ah karena tidak ada di zaman Rasulullah.
Dari sini kemudian muncul pertanyaan, apakah mereka sudah lama mengadakan latihan rebana ataukah baru saja menjelang ada perlombaan rebana? Hal yang sangat mengganggu pemandangan adalah tatkala para guru di komunitas kaum pajero menyaksikannya. Mereka datang bersama dengan teman-temannya. Memakai seragam PGRI, mereka dengan semangat memberikan motivasi pada peserta didiknya. Suaranya keras, bagaikan speaker aktif.
Saya dan teman dewan juri yang lain berpikiran, bahwa kaum pajero sebenarnya kurang pas dalam berpakaian. Mengapa? Karena di situ merupakan institusi pendidikan yang mana dalam hal berpakaian sebenarnya harus sangat diperhatikan. Bercelana cingkrang dan apalagi memakai cadar sebenarnya kurang pas tatkala diterapkan dalam dunia pendidikan.
Dari secuil kisah ini kiranya pemerintah perlu membuat kebijakan atau peraturan yang baru tentang pentingnya berseragam. Pakaian itu penting. Dalam kaidah Jawa, ajining raga saka busana, yang artinya wibawanya seseorang terletak di dalam busana atau pakaiannya. Ketika pakaiannya baik, maka terlihat sopan dan nyaman dilihat. Begitu pula sebaliknya. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 6 Juni 2024
Komentar
Posting Komentar