Langsung ke konten utama

Kaum Pajero dalam Dunia Pendidikan

Kaum pajero (pasukan jenggot rewo-rewo) ternyata tidak hanya menguasai sebuah perkampungan, melainkan merambah sampai dunia perdagangan. Dikatakan seperti itu karena memang Salatiga sudah hampir dikuasai oleh mereka. Kaum perdagangan yang berada di tengah kota hampir semuanya dipimpin dan dikendalikan oleh kaum pajero. 


Selain itu, dalam dunia pendidikan juga mereka hampir menguasai. Jaringan SDIT yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara, menjadikan mereka akan semakin mudah berkembang. Semakin lama pendidikan yang mereka kelola akan semakin maju. Meski harganya agak mahal, namun peminat SDIT cukup banyak. 


Masyarakat banyak yang belum tahu tentang mereka dan jaringannya. Warga mengira bahwa yang penting sekolah keislaman, sampai sore, belajar ngaji dan lain sebagainya. Namun, dampaknya akan terasa tatkala anak didik nanti lulus sekolah. Pendidikan yang diajarkan mereka adalah fokus terhadap pendidikan di sekolah yang berpegang pada al-Qur'an dan sunnah. Sayangnya, pendidikan yang mereka ajarkan adalah mengabaikan ajaran budaya yang ada di dalam masyarakat. 


Seorang teman bercerita, bahwa ia mengundurkan diri menjadi guru di sana lantaran setiap guru diwajibkan menyukseskan ajaran mereka. Tidak sampai di situ saja, ia juga bercerita bahwa setiap guru diwajibkan menyukseskan partai politik yang mereka usung. Karena sudah tidak mantap hatinya, ia pun akhirnya mengundurkan diri. 


Dari secuil kisah ini sebenarnya sudah sangat terlihat akan menyalahi aturan. Seorang guru dituntut untuk menyukseskan partai, padahal sebagaimana aturan yang berlaku bahwa guru itu harus netral, tidak boleh memihak partai tertentu. Apalagi sampai menyukseskan, yang itu sudah jauh sangat melampaui aturan yang berlaku. 


Guru itu adalah seorang pendidik, yang mana harus netral dan non politik. Seorang guru yang berpolitik rasanya kurang pas dan kurang mantap kalau dilihat. Politik partai merupakan wilayah bupati, walikota, gubernur, presiden dan juga anggota DPR yang mana merupakan pemimpin daerah atau wakil rakyat. 


Seorang pendidik apabila misalnya dibolehkan ikut menyukseskan partai tertentu, maka wibawanya akan kurang. Begitu juga dengan kyai di kampung, yang mana merupakan pendidik dan juga orang yang dituakan sekaligus dimintai nasehat-nasehatnya. Ketika seorang kyai terjun partai, maka lambat-laun akan dijauhi oleh masyarakat. Dan kasus yang seperti ini sudah banyak contohnya. 


Contoh lain adalah gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono. Dulu beliau adalah pengurus partai senior, Golkar. Oleh DPR pusat, akhirnya dikeluarkan aturan baru bahwa seorang Sultan tidak boleh berpolitik. Aturan tersebut cenderung memaksa, namun sesungguhnya pro dengan masyarakat. 


Memang bila dilihat dan dibandingkan dengan daerah lain agak unik dan berbeda. Uniknya, seorang kepala daerah tapi non partai. Bedanya, kalau kepala daerah dipilih rakyat namun Sri Sultan tanpa pemilihan melainkan turun-temurun. Itulah istimewanya Yogyakarta. Dikatakan istimewa karena memang ada keistimewaannya tersendiri dengan daerah lainnya. 


Seorang teman yang berprofesi sebagai pendidik bahasa Arab tersebut akhirnya mengundurkan diri dan beralih menjadi tukang bakso. Uniknya, ia berjualan bakso di depan sekolahan tempatnya dulu mengajar. Ia berjualan bakso bukan untuk selamanya, namun hanya sebagai batu loncatan. 


Kini, ia sekarang menekuni sebagai guru bahasa Arab namun di lain tempat. Tempatnya kali ini aman dan juga pro dengan lingkungan. Tempatnya mengajar adalah di wilayah yang mana basisnya para kyai kampung yang tidak ikut mengurusi dan membesarkan sebuah partai politik. Semoga bermanfaat. 


Salatiga, 4 Juni 2024

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...