Kaum pajero (pasukan jenggot rewo-rewo) dalam berdakwah di Salatiga kali ini lebih tenang. Dulu, mereka berdakwah dengan cara meminjam masjid yang ada di dalam perkampungan. Seiring perkembangan zaman, kini mereka berdakwah di masjid atau musholla milik mereka sendiri.
Mereka memiliki pendanaan yang kuat. Jaringannya juga luas. Apabila hanya membangun sebuah musholla kecil, mungkin hal itu merupakan hal yang sangat mudah. Keberadaan mereka pun semakin hari semakin bertambah banyak pengikutnya.
Kebetulan saya pernah mempunyai pengalaman sendiri dengan kaum pajero. Saat itu, kaum pajero meminjam sebuah masjid di daerah Gendongan Salatiga. Oleh mereka, setiap malam jum'at masjid tersebut digunakan untuk kajian (pengajian) secara rutin. Sementara warga kampung, menggunakan masjid sebagai acara yasinan setiap dua minggu sekali dan itu dilaksanakan setiap malam sabtu.
Alasan warga karena kalau diadakan setiap seminggu sekali terlalu keberatan. Maklum, sebagian warga setempat beragama Kristen, sementara sebagiannya lagi beragama Islam. Kalau acara pengajian yasinan diadakan setiap seminggu sekali tiap malam sabtu, warga masyarakat terlalu keberatan dalam hal masalah penyajian snak makanan. Memang, yang memberi makanan ringan selepas tahlilan adalah warga kampung.
Warga masyarakat pun akhirnya resah. Keberadaan kaum pajero sedikit banyak mengganggu warga. Baunya terlalu wangi menyengat, sangat berbeda dengan warga masyarakat pada umumnya. Yang laki-laki menggunakan jubah, berjenggot, serta memakai celana cingkrang. Sementara wanita memakai pakaian serba tertutup dan memakai cadar.
Mereka pun sangat semangat membantu masjid. Pak ketua takmir akhirnya yang bingung. Maklum, yang namanya orang Jawa serba sungkan tatkala sering dikasih bantuan uang atau makanan. Disisi lain sungkan, namun di satu sisi juga bingung karena warga masyarakat resah dengan keberadaan kaum pajero.
Dengan berdasar pada kemaslahatan dan keamanan masyarakat itulah akhirnya ketua takmir mengambil keputusan. Ketua kaum pajero dipanggil. Dengan mengucap bismillah, akhirnya kaum pajero tidak diperbolehkan meminjam masjid sebagai sarana kajian rutinan.
Kini, mereka sudah punya masjid sendiri. Kalau dulu mereka menyusup masjid kampung, sekarang sudah punya masjid atau musholla sendiri. Ketika saya lihat, mereka ternyata sangat antusias mengikuti kajian rutin. Di Pendem Argomulyo, jamaahnya ternyata cukup banyak. Wilayah Kecamatan Argomulyo yang mau melakukan ibadah kajian rutin maka perginya ke daerah Pendem.
Mereka menamai musholla-nya dengan nama Ummi Barokah. Setiap malam jumat mereka mengadakan kajian rutin yang diikuti oleh kaum pria dan wanita. Ketika adzan berkumandang, maka ada cukup banyak jamaah yang datang, yang akan melaksanakan shalat wajib. Mereka juga mempunyai metode dalam belajar membaca al-Qur'an yaitu tartiilaa. (Bersambung)
Salatiga, 2 Juni 2024

Komentar
Posting Komentar