Kaum pajero (pasukan jenggot rewo-rewo) dalam perjalanannya mengalami ketenangan dan kegelisahan. Dikatakan tenang karena mereka telah memiliki musholla sendiri. Dikatakan sedih karena beberapa musholla atau masjid di Salatiga dipasang papan berlogo NU.
Memang terkesan agak radikal. Dikatakan seperti itu karena mungkin ada sebagian warga yang menganggap bahwa masjid atau musholla tersebut milik warga NU. Ada juga yang menganggap bahwa ketika masjid ditempeli label seperti itu, maka budaya di masjid tersebut adalah budaya NU; misalnya, ada pujian selepas adzan, membaca dzikir yang agak keras dan lain sebagainya.
Di berbagai tempat, terutama yang perumahan, kaum pajero biasanya menyasak dan menyusup ke sebuah masjid. Awal mulanya mereka sholat seperti biasa. Lama-kelamaan, mereka tidak akan menutup kemungkinan akan menguasai, mengatur, bahkan mengganti budaya yang sudah ada.
Saya perhatikan terutama waktu dzuhur dan asar, banyak kaum pajero yang berkeliling ke mana-mana, mencari masjid yang kosong dan kemudian digunakan untuk sholat berjamaah. Mereka memanfaatkan waktu tersebut karena di berbagai tempat sebagian besar penduduknya masih bekerja. Kalau waktu magrib dan isyak mungkin saja banyak warga masyarakat yang sudah pulang dari bekerja. Sehingga ketika ingin mengosak-asik masjid pun menjadi lebih sulit.
Mereka memang cerdas. Mereka ingin mengubah paradigma yang ada di dalam masyarakat. Misalnya saja ketika mereka sering sholat berjamaah di sebuah masjid, maka mungkin warga tetangga sebelah akan mengira bahwa masjid tersebut dikuasai oleh kaum pajero.
Mereka juga berani menyusup masjid milik kantor pemerintah. Ketika sholat di masjid milik pemerintah, maka kita jangan heran kalau ada sebagian masjid yang dikuasai oleh mereka. Budaya yang ada di masjid tersebut pun ya seperti budaya yang mereka gunakan sehari-hari.
Ada beberapa masjid yang mereka tidak berani masuk. Salah satunya adalah masjid milik TNI. Mereka takut dengan sendirinya. TNI adalah Indonesia, maka budaya yang ada di masjid TNI adalah budaya yang asli di Indonesia. Masjid Pandawa, misalnya, yang berada di jalan Jenderal Sudirman, menerapkan budaya yang ada di Indonesia.
Masjid yang berada di dalam kampung yang masih kuat dengan budaya lokalnya juga sangat sulit disusupi kaum pajero. Mengapa? Masjid yang ada di kampung biasanya masih berpegang teguh pada pendirian serta berprinsip pada budaya yang telah diajarkan oleh para ulama terdahulu.
Kaum pajero bisa saja mengusik warga kampung, namun bukan menyusup melainkan membangun masjid sendiri. Mereka membangun masjid bersama dengan para jamaahnya. Setelah selesai pembangunannya maka masjid tersebut kemudian digunakan oleh mereka. Kadang-kadang mereka juga memanggil jamaah dari tetangga sebelah dan juga luar kota guna meramaikan masjid mereka.
Salatiga, 3 Juni 2024
Komentar
Posting Komentar