Langsung ke konten utama

Kyai Anwar Zahid dan Seruan Mondok



Dalam beberapa kesempatan, saya sering menonton pengajian melalui media Youtube. Youtube tersebut adalah milik KH Anwar Zahid, yang dikelola oleh admin. Selain santai, juga sering diselingi dengan humor. Siapa yang menonton boleh dikatakan tidak akan bosan akan ceramahnya. 


Meskipun ceramahnya kadang sama, namun suasananya menjadi berbeda tatkala disampaikan di tempat lain. Meski tidak mempersiapkan tema terlebih dahulu, namun pecintanya tetap banyak. Terbukti saat mengisi pengajian, ratusan bahkan ribuan orang datang berdesak-desakan memadati lapangan, masjid atau teras rumah. Hal itu menandakan bahwa masyarakat bersiap mendengarkan ceramah kyai yang lucu ini. 


Bagi saya pribadi, Kyai Anwar Zahid merupakan orang yang unik. Sebab, meski hafal al-Qur'an, namun penampilannya sederhana. Beliau jarang ketika berceramah menggunakan ayat al-Qur'an. Paling-paling satu atau dua ayat. Selebihnya sering menggunakan perumpamaan. Misalnya, manusia itu seharusnya seperti lebah yang itu intinya selalu berdzikir kepada Tuhan. 


Selain itu, beliau juga seorang seniman. Ketika mengisi pengajian, beliau sering nembang macapat. Sejarah tentang gending jawa, macapat, dan lagu jawa lainnya pun beliau mengerti. Tak salah jika beliau  mendapatkan julukan sebagai seorang seniman. 


Dalam beberapa ceramah, beliau sering mengajak para jamaah untuk memondokkan anaknya ke pesantren. Intinya, zaman sekarang ini mondok adalah sesuatu yang boleh dikatakan wajib. Dikatakan wajib karena suatu keharusan agar anak kita tidak tertinggal akan ilmu agama. 


Sebenarnya, kata beliau, bisa mengaji di rumah namun godaannya amat sangat berat. Musuh utama zaman sekarang adalah bukan orang melainkan apa yang dipegang yaitu HP. Selain itu, pergaulan juga tidak bisa diabaikan. Pergaulan yang terjadi saat ini kalau tidak diawasi begitu ketat akan sangat membahayakan bagi anak kita. Hal yang negatif biasanya akan lebih cepat menular dan berkembang di masyarakat. 


Setelah saya membandingkan dengan lingkungan sekitar, kalau dicermati ucapan beliau ternyata tidak melenceng. Seorang anak SD yang sudah dibelikan HP pribadi akan sangat sulit masuk pondok pesantren. Mengapa? Mereka sudah ketergantungan akan HP. Ketika mereka ditawari masuk pondok, maka mereka akan takut. Mereka bingung kalau tidak memegang HP karena sudah kecanduan. 


Seorang tetangga yang sudah mondok selama sebulan akhirnya kembali ke rumah dan batal mondok. Alasannya karena sudah ketergantungan akan HP. Ketika sudah biasa memegang HP, maka akan ada yang kurang tatkala tidak memegang HP. HP ibarat uang yang selalu berada di samping seseorang. 


Seorang tetangga lainnya sudah iklan akan mondok. Bapaknya sudah mencari brosur pondok pesantren yang dituju. Bapaknya merasa jenuh karena melihat anak perempuannya yang selalu memegang HP melulu. Tatkala mau mendaftar ke pondok, akhirnya batal. Mengapa? Karena sudah ketakutan kalau di pondok tidak memegang HP. 


Bagi saya pribadi, HP sebenarnya boleh hanya saja ada saatnya. Orang tua zaman sekarang kadang aneh. Mereka akan bangga kalau anaknya sudah dibelikan HP. Mereka juga akan bangga kalau anaknya sudah pintar bermain HP. Padahal, belum tentu anaknya pintar akan prestasinya. Lagi-lagi, orang tuanya bangga kalau anaknya pintar bermain HP. HP dianggap sudah segala-galanya. 


Dari secuil kisah tersebut kita sesungguhnya dapat merenungi dhawuh beliau, KH Anwar Zahid. Bicaranya santai, namun mengena ke dalam hati. Prediksinya pun ternyata tidak meleset. Hal ini sesuai dengan pepatah jawa kuno, endi sing wis dijongko, bakal kejangkah, apa yang sudah digaris (diucapkan), maka akan dilalui oleh manusia. Dan ini sudah mulai terasa. Semoga bermanfaat. 


Salatiga, 27 April 2024

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...