Bila memperhatikan kasus Pilpres, ternyata belum usai. Tampak kedua kubu masih belum menerima kekalahannya. Pasangan nomor urut 1 dan 3 mengajukan gugatan ke MK. Kedua belah pihak protes dan menggugat atas kemenangan pasangan nomor urut 2.
Nomor urut 1 saya ibaratkan Kaum Hijau karena ibaratnya didukung ormas Islam. Nomor urut 2 ibarat Kaum Kuning. Sedangkan nomor urut 3 saya ibaratkan Kaum Merah.
Meski demikian, saya perhatikan ada yang juga belum menerima hasil akhir pasca pilpres 14 Februari 2024. Hasil akhir memperlihatkan nomor urut 2 sebagai pemenang. Disusul kemudian nomor urut 1 dan 3.
Kalau melihat sejarah, memang Kaum Kuning seharusnya saat ini menjadi pemenang. Pada tahun 2004-2014, Kaum Kuning yang menjadi pemenang. Partai Demokrat ibarat menjadi nahkoda karena berhasil mengatur pemerintahan selama dua periode. Periode pertama sebenarnya yang menang partai Golkar. Sementara periode yang kedua yang menang adalah Partai Demokrat.
Setelah itu dilanjutkan dengan kemenangan Kaum Merah. Pada tahun 2014-2024 Kaum Merah akhirnya menjadi pemenang dan menguasai pemerintahan. Jokowi menjadi Presiden RI selama dua periode. Meski demikian, banyak yang menyebut bahwa Presiden Jokowi hanyalah sebagai boneka politik semata. Yang menjadi supper power adalah ketua umum partai, Megawati Soekarno Putri.
Kalau boleh jujur, tahun ini seharusnya yang menjadi pemenang adalah Kaum Hijau, yakni Anies Baswedan. Namun, suara nomor urut 1 kalah dengan nomor urut 2. Prabowo dalam berbagai survei telah menguasai suara sebelum pemilu berlangsung.
Namun, takdir Tuhan ternyata berkata lain. Meski nomor 2 tidak menggunakan embel-embel ormas Islam, ternyata tetap menang. Nomor urut 1 dan 3 meski membawa embel-embel NU (Muhaimin dan Mahfud MD), ternyata tetap juga kalah. Prabowo tetap meraih suara terbanyak.
Mengapa nomor 1 kalah? Dalam pandangan saya, paslon nomor urut 1 terlalu islamis. Padahal, negara ini adalah negara Pancasila yang menganut sistem demokrasi, bukan Islami. Dalam berbagai survei, warga non Muslim tak mau mencoblos paslon nomor urut 1. Warga non Muslim sebagian besar mencoblos nomor 2 disusul kemudian nomor 3.
Sekalipun Jawa Tengah terkenal dengan sebutan Kandang Banteng, namun ternyata suaranya terbanyak adalah Prabowo. Entah karena mengapa. Prabowo ibarat sudah kejatuhan wahyu Illahi, sehingga kemenangannya sudah tidak bisa ditawar. Walau diserang berbagai kubu, Prabowo tetap menang.
Pertanyaan mendasar, mengapa paslon 1 dan 3 belum menerimanya? Inilah pertanyaan sederhana namun mungkin sulit dijawab. Saya bukan ahli politik. Setidaknya mereka sebenarnya harus berpikir jernih bahwa Takdir Tuhan sudah mutlak dan tidak bisa dilawan. Kaum Kuning bakal menjadi Presiden Republik Indonesia. Kita tinggal menunggu pelantikannya pada bulan Oktober mendatang. Semoga bermanfaat.
Batang, 15 Februari 2024
Komentar
Posting Komentar