Pemikiran yang out of the box kadang dibutuhkan oleh sebuah organisasi. Pemikiran inilah yang kadang akan menghasilkan program baru, yang kadang lebih bermanfaat. Pemikiran ini kadang menimbulkan pro dan kontra. Maklum, pikiran orang itu tidak sama.
Banyak masyarakat yang belum paham akan gagasan baru tersebut. Terlebih, gagasan tersebut masih asing dalam telinga masyarakat. Gagasan tersebut sebenarnya sangat maju, hanya saja banyak masyarakat yang belum bisa menjangkaunya. Jangankan masyarakat kecil, masyarakat akademik pun kadang banyak yang belum bisa mencerna.
Sejak diangkat menjadi menteri agama, Yaqut Kholil Quomas mengundang kontroversial. Namanya semakin melambung tinggi tatkala beliau mengeluarkan aturan speaker masjid. Peraturan tersebut sebenarnya sangat bagus, hanya saja banyak yang belum paham.
Seorang oknum ustadz kadang belum bisa mencermati pemikiran Gus Men (sapaan Yaqut). Mengatakan bahwa Gus Men adalah radikal, misalnya, namun sebenarnya belum membaca aturan tersebut secara tuntas. Kalau sudah membaca, mungkin ceritanya akan berbeda. Intinya, membaca itu menjadi sangat penting. Tanpa membaca secara cermat, maka kita akan dengan mudah mengatakan sesuatu itu sesat, misalnya, karena kita minim pengetahuan.
Gagasan Gus Men tentang KUA berlaku untuk semua agama sebenarnya sangat bagus. Gagasan tersebut merefleksikan kompleksitas beragama secara mendalam. Namanya saja KUA, maka harus melayani semua agama tanpa pandang bulu.
Mantan menteri pendidikan Prof. Malik Fadjar, juga pernah melontarkan gagasan akan tidak wajibnya memakai kerudung bagi mahasiswi UMM. Gagasan tersebut banyak menuai protes dari kalangan internal kampus. Internal kampus menganggap bahwa kampus yang berbasis keislaman wajib mengenakan kerudung saat berada di dalam kampus.
Setelah kebijakan tersebut diimplementasikan, ternyata malah sukses. Setiap tahun yang mendaftar kuliah selalu mengalami peningkatan. Kualitas mahasiswanya pun juga baik. Hasil akreditasinya juga cukup membanggakan yakni unggul.
Sampai sekarang kita masih bisa melihat akan kampus UMM. Jejak peninggalan karyanya masih begitu terasa sampai sekarang. Saat ini, kampus UMM masuk dalam jajaran kampus bergengsi, baik dalam perserikatan Muhammadiyah maupun dalam kancah nasional.
Apabila gagasan Gus Men dapat terealisasi, maka akan menjadi sejarah baru di negeri ini. Gagasan ini melambangkan moderasi beragama yang mana saling menghormati, menghargai dan memperlakukan semua agama dengan sama tanpa pandang bulu. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 2 Maret 2024
Komentar
Posting Komentar