Permainan pada dasarnya merupakan sesuatu yang mengasyikkan. Ia laksana obat yang bisa mengobati penyakit. Permainan yang dilakukan dengan baik, akan mengasah otak kita. Sebagaimana pisau, kalau otak kita sering diasah maka akan semakin tajam.
Akan tetapi, zaman sekarang ini permainan sudah berupa online. Pada umumnya permainan online tersebut menggunakan HP. Selain praktis, juga mudah dibawa kemana-mana. Tidak mengherankan kalau orang sekarang lebih memilih HP ketimbang laptop.
Belakangan ini, saya memandang bahwa penyakit anak remaja, dewasa hingga orang tua adalah penyakit judi online. Orang dengan asyik bermain judi online. Awal mulanya mereka biasanya menang. Setelah beberapa hari kemudian biasanya akan kalah.
Mereka tidak berpikir panjang akan hal itu. Yang dipikir adalah kemenangan akan berjudi. Memang sangat menggiurkan. Modal satu juta misalnya, kalau menang bisa sampai 50 juta. Jelas sangat menggoda.
Akan tetapi, mereka sebenarnya berpikiran sempit. Yang membuat aplikasi sesungguhnya lebih cerdas. Namanya saja pedagang, maka akan mencari keuntungan. Pada umumnya pedagang mencari keuntungan dengan segala cara yang dibuatnya.
Setelah seminggu, biasanya akan kalah. Mereka biasanya akan dendam. Karena dendam, mereka juga akan semakin masuk ke dalam bagaimana caranya agar bisa menang kembali. Logikanya, agar bisa mengembalikan modal.
Sayangnya, semakin ke dalam ternyata semakin kalah. Niatnya mau mengembalikan modal ternyata malah semakin kalah. Uang semakin bablas, entah perginya kemana. Keluarga yang ada di rumah pun kadang tak terpikirkan. Itulah gambaran yang saya tangkap dari cerita berbagai teman.
Apalagi, zaman sekarang yang namanya uang sudah tersambung ke ATM yang selanjutnya menyambung ke M-banking. Dari M-banking itulah kemudian tersambung dengan HP. Apabila kita bermain kalah, maka uangnya bisa ludes beneran.
Judi itu sebenarnya hal yang kurang baik. Hanya saja, namanya saja penyakit maka sangat sulit disembuhkan. Mereka yang cerdas biasanya tidak akan berjudi, baik manual maupun online. Judi merupakan perhiasan dunia, yang seakan-akan indah namun sesungguhnya menjerumuskan dan merugikan kita semua.
Masih mending judi manual daripada judi online. Judi manual masih bisa direm, sementara judi online sangat sulit mengeremnya. Kalau sudah kalah biasanya akan semakin ketagihan. Selanjutnya, uang kita pun akan kabur bersama angin.
Cerita dari berbagai kalangan menggambarkan bahwa mereka juga banyak hutang. Permasalahannya sederhana, meminjam uang secara online kemudian digunakan untuk bermain judi online. Berhutang itu harus membayar, sementara judi biasanya harus kalah. Artinya, sudah jatuh tertimpa tangga.
Semoga saja kita semua tidak terjangkit virus judi. Kata bang Rhoma, judi itu meracuni pikiran. Kalaupun kita menang, sebenarnya gerbang menuju kekalahan. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 7 Maret 2024
Komentar
Posting Komentar