Langsung ke konten utama

Ibadah Sementara di KUA

Gagasan Menteri Agama (menag) untuk menggunakan aula KUA sebagai tempat ibadah sementara bagi agama selain Islam tentu menimbulkan pro dan kontra. Bagi orang yang melihatnya dari sisi akidah, mungkin akan mengatakan tidak setuju. Tetapi bagi orang yang melihatnya dari sisi kemanusiaan, gagasan tersebut sebenarnya sangat bagus. 


Memang, tidak dapat dipungkiri, KUA sampai saat ini identik dengan Islam. Orang-orang yang menggunakan KUA hanyalah umat yang beragama Islam. Yang bekerja di KUA semuanya beragama Islam. Yang mengunjungi KUA ketika akan ada orang menikah juga orang yang beragama Islam. 


Lebih ke atas lagi, Kementerian Agama bagi orang awam juga diperuntukkan khusus untuk agama Islam. Orang mau naik haji harus melalui KUA terlebih dahulu. Menteri Agama dari dulu sampai sekarang juga beragama Islam. Karena Islam adalah mayoritas, maka sampai sekarang publik pun mengetahui bahwa semua yang ada di bawah naungan Kementerian Agama adalah beragama Islam. 


Padahal, Kementerian Agama itu cakupannya sangat luas. Semua agama di Indonesia diatur, diawasi dan berada di bawah naungan Kementerian Agama. Dari bidang pendidikan hingga keagamaan juga berada di bawah komando Kementerian Agama. Sayangnya, sekali lagi, banyak masyarakat yang belum paham. 


Ibadah sementara yang dimaksud Menag adalah ketika agama di suatu daerah belum mempunyai tempat ibadah tetap dikarenakan sosial, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Misalnya, ketika agama Kristen di suatu daerah belum mempunyai gereja, maka boleh menggunakan aula KUA sementara. Di situ ada kata sementara, bukan selamanya. Ketika misalnya agama Hindu dan Budha menggunakan KUA, juga tidak apa-apa. 


Memang, gagasan Menag kadang menimbulkan kontroversial. Misalnya, ketika Menag mengibaratkan suara adzan dengan gonggongan anjing, maka jelas menimbulkan pro dan kontra. Adzan dianggap sesuatu yang sakral, sehingga ketika diumpamakan dengan suara anjing, jelas umat Islam banyak yang protes. 


Sebenarnya bukan itu yang dimaksud Menag. Menag sebenarnya ingin mengatakan masalah toleransi. Bahwasanya ketika adzan, maka suara speaker luar boleh digunakan. Namun ketika ada pengajian, ceramah, khutbah dan lain sejenisnya, disarankan menggunakan spekaer dalam. 


Itu adalah anjuran. Bisa dilakukan bagus. Ketika tidak mampu dilakukan, juga tidak apa-apa. Ini biasanya berlaku bagi wilayah yang masyarakatnya beragam, multi etnis dan multi agama. Salatiga misalnya, karena multi etnis dan agama, maka edaran Menag ini sangat pas ketika digunakan. 


Umpama di kampung yang islamis, maka anjuran Menag itu biasanya tidak berlaku. Misalnya ketika ada tadarrus al-Qur'an pada bulan ramadhan, menggunakan speaker luar sampai jam dua belas malam tidak masalah. Ini sampai sekarang masih banyak berlaku di daerah yang banyak pondok pesantren salafiyah. 


Intinya, apa yang diinginkan dan dianjurkan Menag sebenarnya menjaga harmoni antar umat beragama. Beragama yang baik pada dasarnya adalah saling menghormati antar umat beragama. Bukankah inti ajaran semua agama itu pada dasarnya berbuat baik kepada sesama? Semoga bermanfaat. 


Salatiga, 29 Februari 2024

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...