Pada suatu saat saya pergi ke perusahaan aqua, di daerah Polanharjo Klaten. Sembari jalan-jalan, saya berbincang dengan seorang tetangga sekitar. Awal mulanya memang pergi liburan bersama keluarga. Setelah dari sana, ternyata saya mendapatkan cerita mengenai jerit tangis tetangga sekitar.
Dulu, yang mempunyai lahan aqua mungkin tidak berpikiran yang aneh. Tanah dijual kepada warga asing dan selanjutnya dibuat perusahaan air mineral. Setelah sekian lama akhirnya warga masyarakat sekitar telah menerima imbasnya.
Mungkin yang mempunyai lahan berpikirnya sempit. Apakah akan laku menjual air putih dalam botol? Ternyata, setelah puluhan tahun berlalu, prediksi orang Spanyol tidak meleset. Warga masyarakat lebih memilih air mineral dibandingkan dengan air yang direbus melalui kompor.
Orang mau menikah, membeli aqua. Atau paling tidak membeli air mineral. Orang mau khitan juga biasanya membeli air mineral. Tidak ketinggalan, ada orang yang meninggal dunia pun biasanya juga membeli air dalam kemasan. Selain praktis, tentunya tidak memerlukan waktu lama.
Kini, warga masyarakat sekitar pun akhirnya banyak yang menyesal. Warga daerah Polanharjo dan sekitarnya banyak yang mengeluh dengan adanya pabrik aqua yang setiap hari selalu berproduksi. Mengapa menyesal?
Lingkungan sekitar akhirnya banyak yang kekurangan air. Air sumur menjadi berkurang. Logika sederhananya, ketika di sana ada sebuah pabrik, apakah akan menggunakan alat manual? Tentunya tidak. Kalau sumber air diserap sebagaimana mestinya mungkin tidak berimbas. Kalau disedot menggunakan mesin, tentunya akan berpengaruh terhadap tetangga sekitarnya.
Jangankan perusahaan besar sekelas aqua. Setingkat rumah sakit saja sudah mempunyai pengaruh terhadap lingkungan sekitarnya. Ketika musim kemarau panjang, banyak sumur warga yang mengalami kekeringan. Hal itu tak lain karena rumah sakit menggunakan sumur bor yang secara otomatis mempunyai efek negatif terhadap tetangga sekitarnya.
Maka dari itu, menjadi warga masyarakat itu seharusnya berpikiran maju. Namun, hal itu ternyata sudah terlanjur. Paling tidak dengan kejadian ini kita dapat belajar bahwa pemikiran kita harus cerdik. Kita seharusnya tidak mudah goyah dengan iming-iming uang dari warga asing yang nominalnya besar. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 19 Desember 2023
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar