Sekitar satu bulan yang lalu, saya menonton kesenian tradisional kuda kepang di daerah Noborejo, Salatiga. Ada yang menyebutnya dengan istilah Kuda Lumping. Ada pula yang menyebutnya dengan istilah Reog.
Di Salatiga, kata yang sering digunakan adalah Reog. Reog disini berbeda dengan yang ada di daerah Ponorogo. Kalau di Ponorogo itu besar dan dimainkan oleh anggota kepala, di sini ternyata menggunakan badan. Reog di Salatiga cenderung menggunakan kuda buatan yang terbuat dari anyaman bambu.
Pengunjungnya sangat banyak. Pedagang juga tidak ketinggalan. Mungkin karena bertepatan dengan malam minggu akhirnya warga masyarakat tumpah ruah. Dengan membayar uang parkir sebesar lima ribu rupiah warga masyarakat bisa menyaksikan pertunjukan tersebut dari awal hingga akhir.
Awal mulanya pembawa acara sambutan. Intinya, pertunjukan kesenian tersebut dalam rangka tasyakuran walimatul khitan. Yang punya hajat menyewa group kesenian tersebut guna menghibur warga. Pemilik rumah pun juga memberi sambutan, walaupun hanya sebentar.
Tarian kuda kepang pun dimulai. Awalnya menari biasa. Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, akhirnya banyak yang lelah. Para pemain pun istirahat sejenak sembari menunggu komando dari sinden. Para pemain tersebut kemudian bermain kembali hingga sampai akhirnya banyak yang kesurupan.
Yang saya ingat, di situ ternyata ada bacaan sholawat Jibril. Sholawat tersebut dinyanyikan dengan merdu oleh seorang sinden. Setelah shalawat dikumandangkan, akhirnya banyak yang kesurupan. Shalawat, dengan begitu, tidak hanya disenangi oleh manusia saja tetapi juga para makhluk gaib yang menyusupi pemain kuda kepang.
Ada yang makan arang menyala, mengupas kulit kelapa, makan pecahan kaca dan lain sebagainya. Ada juga yang hampir keluar dari arena, namun tidak berhasil. Pawang kuda kepang berhasil menangkap pemain kuda kepang dan membawanya ke arena kembali.
Sekitar sepuluh menit kemudian akhirnya para pemain kuda kepang disembuhkan oleh pawang. Menariknya, lagunya juga shalawat. Shalawat yang dinyanyikan berjudul Alamate Anak Soleh. Ketika sudah sembuh, saya pun akhirnya pergi.
Sebenarnya masih ada dua tarian lagi yaitu gedruk dan topeng ireng. Karena mau menyaksikan yang lain, saya akhirnya pindah tempat. Saya kemudian pindah ke daerah Tetep Wates, Salatiga. Di sana yang saya lihat kesenian tradisional bernama Rodat.
Kesenian Rodat ini boleh dikatakan hampir punah. Dikatakan seperti ini karena memang sudah jarang yang mementaskannya. Berbeda dengan kuda kepang yang semakin tahun semakin bertambah.
Kesenian Rodat masih menggunakan alat tradisional semua. Saya hanya melihat empat buah rebana dan satu bas besar. Lagunya pun masih islami semua. Sebagian besar shalawat dan kadang diselipi syiiran berbahasa Aceh.
Tarian Rodat hampir mirip dengan tarian Saman Aceh. Pemain Rodat juga semuanya cowok. Dengan memakai baju ala Belanda serta kacamata, para pemain asyik bernari mengikuti alat musik tradisional.
Di kesenian ini, para pemain juga mementaskan aksinya. Ada permainan bola api menggunakan kelapa, tidur di atas duri salak, makan pecahan kaca dan menyembur api menggunakan minyak tanah dan oncor. Kesenian ini banyak memicu perhatian warga karena aksinya yang heroik.
Setelah jam sebelas malam, saya akhirnya pindah lagi ke lain tempat. Saya pindah ke daerah Belon Salatiga dalam rangka menyaksikan kesenian wayang kulit. Sungguh, pengunjungnya sangat banyak. Hal itu disebabkan karena bertepatan dengan kegiatan merti dusun di wilayah tersebut.
Dalangnya sudah cukup tua. Namanya Pak Suseno. Melihat cara berbicaranya, dalang tersebut normal. Saya mengatakan normal karena tanpa terpengaruh minuman keras atau alkohol.
Zaman sekarang yang namanya dalang kadang sudah banyak yang minum minuman keras. Harapannya agar lancar dalam berbicara. Karena kurang percaya diri, minuman keras dibuat menjadi jalan pintas. Ini jangan dicontoh.
Padahal, dalam sejarahnya, wayang merupakan media syiar yang dilakukan Walisongo untuk menyebarkan agama Islam. Seorang dalang dianggap jalan dari syari'at, hakekat, thoriqoh menuju ma'rifat.
Bagaimana tidak? Seorang dalang harus berwudhu terlebih dahulu ketika akan pentas. Ia juga tidak boleh tidur selama memainkan wayang. Ketika sedang ndalang juga harus menahan kentut. Artinya, dalang tersebut selalu dalam keadaan suci.
Ini tidak berbeda jauh dengan laku santri. Berwudhu terlebih dahulu, shalat malam dan dilanjutkan dengan mujahadah. Setelah itu begadang sampai subuh dan tidak boleh tidur. Ketika begadang juga harus menjaga wudhu.
Dalam cerita pewayangan, ada istilah Arab yang dijawakan karena saat itu lidah orang Jawa sulit mengatakan dialeg Arab. Misalnya, kata 'Kalimah Syahadat' menjadi Kalimosodo. Dua kalimah syahadat (syahadatain) diubah menjadi kata sekaten. Lakon Pandhawa yang berjumlah lima orang melambangkan rukun Islam.
Setelah cukup malam, saya akhirnya pulang ke rumah. Duh, sungguh sangat bahagia waktu itu. Menyaksikan tiga kesenian tradisional dalam satu hari. Kesenian tradisional yang hampir punah harus kita rawat agar di kemudian hari kita tidak kepaten obor (kehilangan sejarah). Semoga bermanfaat.
Salatiga, 13 Desember 2023
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar