Langsung ke konten utama

Pengalaman Mengajar di SMP N 3 Salatiga

Dalam mengajar peserta didik, sifat tegas adalah diperbolehkan. Yang tidak diperbolehkan adalah ketika sampai main tangan. Ini sangat berbeda dengan keadaan tatkala saya masih kecil.


Sewaktu masih kecil, saya sering melihat kekerasan fisik yang dilakukan oleh guru. Dan itu terjadi hampir di seluruh pelosok negeri. Yang namanya guru "menjewer" telinga atau bahkan sampai memukul peserta didik merupakan hal yang sangat wajar. 


Begitu juga dengan orang memukul orang atau berkelahi merupakan pemandangan yang biasa. Orang yang merasa "hebat" merasa leluasa untuk memukuli orang yang lemah. Sementara yang lemah hanya bisa pasrah dan berdiam diri. 


Sekarang, orang memukul orang bisa kena pasal. Siapa yang dipukul bisa saja melaporkan pada pihak yang berwajib. Pada intinya zaman sekarang sudah banyak orang yang sadar akan hukum. 


Bagaimana kalau dengan sifat tegas? Tegas ternyata dibutuhkan di banyak aspek. Di sekolah membutuhkan ketegasan. Dalam mendidik anak di rumah juga membutuhkan ketegasan. 


Terkait dengan masalah ketegasan, ternyata saya mempunyai pengalaman yang cukup menarik. Pengalaman ini saya dapatkan di SMP Negeri 3 Salatiga, Jawa Tengah. 


Namanya adalah Pak Bambang Subiyakto. Beliau dulu Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Salatiga. Orangnya tinggi dan besar. Perilakunya setiap hari tegas dan tertib, mirip seperti militer.


Beliau bercerita kepada saya mengenai zaman dahulunya yang berprofesi sebagai anggota TNI. Oleh karena jauh dengan keluarga, beliau akhirnya mengajukan mutasi agar dipindah menjadi seorang guru. Pengajuan beliau akhirnya disetujui oleh pimpinanannya. 


Zaman dahulu memang masih mudah. Selain jumlah guru masih belum terlalu banyak, juga tentang regulasi yang belum terlalu rumit. Kalau zaman sekarang tentunya tidak bisa. Masak seorang anggota TNI mengajar di sekolah? Mana Akta IV-nya dan mana sertifikat PPG-nya? 


Kecuali kalau itu guru diperbantukan. Misalnya, di pedalaman Papua yang itu masih sangat kekurangan tenaga guru, bisa saja anggota TNI diperbantukan mengajar. Dan program itu sampai sekarang masih berlanjut. 


Sifat militer itulah yang sampai sekarang masih melekat di dalam tubuh Pak Bambang Subiyakto. Tatkala belajar beliau sangat disiplin. Beliau tidak segan memberikan contoh kepada guru lainnya. Beliau lebih banyak memberikan praktik daripada ceramah semata. 


Atas kedisiplinannya, beliau akhirnya mendapatkan amanah yang lebih tinggi. Beliau diangkat menjadi kepala sekolah oleh pimpinan daerah setempat. 


Selama memimpin sekolah, beliau membuat kebijakan yang cukup unik dan boleh dikatakan aneh. Setiap peserta didik wajib masuk sekolah pukul setengah tujuh. Setelah pukul setengah tujuh, gerbang utama ditutup oleh satpam. 


Otomatis peserta didik yang terlambat tidak bisa masuk gerbang. Kebijakan yang terlihat "kejam" tersebut ternyata banyak dicari dan diminati oleh wali peserta didik. Hal itu dapat dilihat mengenai minat peserta didik yang mau mendaftar sekolah cenderung naik dari waktu ke waktu.


Saat sedang upacara bendera, beliau pernah menjadi pembina upacara. Beliau memberikan ceramahnya cukup menohok. Ceramah beliau pada intinya berisi tentang kedisiplinan. 


"Saya tidak mau diintervensi. Apabila kalian atau orang tua kalian protes terhadap gerbang sekolah yang sudah ditutup pukul setengah tujuh, silahkan kalian pindah dari sekolah ini," kata Pak Bambang disambut dengan senyuman peserta didik. 


Ungkapan beliau boleh dikatakan cukup kejam, namun mampu memikat peserta didik untuk bersekolah di tempat itu. Kedisiplinan yang dilakukan sejak dini kemungkinan besar akan tetap terpatri dalam diri, hingga ketika dewasa nanti akan tetap menjadi anak yang disiplin. 


Kini, beliau telah almarhum. Namun, jasa beliau masih tetap teringat dan terimplementasi di dalam internal SMP Negeri 3 Salatiga. Semoga Tuhan mengampuni semua kesalahan beliau. Amiin. Semoga bermanfaat. 


Salatiga, 14 Desember 2022


*keterangan : artikel ini sebelumnya tayang di guru inovatif.id. 

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...