Bagi warga Salatiga, nama Dukuh Bendosari tentunya sudah tidak asing. Kampung ini berada di sebelah jalan lingkar Salatiga. Di kampung ini juga ada sebuah pura, yang mana merupakan tempat ibadah bagi agama Hindu.
Bendosari cukup terkenal dengan kampung non-Muslim. Hal itu terbukti sejak dahulu di kampung ini belum ada masjid. Masjid yang ada sekarang ini ternyata boleh dikatakan masih cukup baru. Usianya masih sekitar lima tahun. Itu pun belum genap.
Di sebelah kampung Bendosari ada sebuah kampung yang namanya Salib Putih. Bila dilihat dari namanya, nama Salib cenderung identik dengan agama Kristen atau Katolik. Dan benar saja, kampung Salib Putih mayoritas beragama Kristen.
Baik Bendosari maupun Salib Putih semuanya masih dalam wilayah Kelurahan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Jawa Tengah. Sebelah selatan langsung berbatasan dengan Kabupaten Semarang. Juga merupakan jalur utama antara Salatiga menuju Magelang.
Kampung Bendosari terkenal dengan kampungnya umat Kristiani. Setelah saya melaksanakan shalat jum'at, persepsi tersebut ternyata dapat dibantah. Buktinya ketika saya shalat ternyata masjidnya tidak cukup. Warga masyarakat sampai ada yang shalat di pinggir jalan raya, beralaskan sajadah yang dibawahnya berisi tumpukan sandal para jamaah.
Masjid tersebut diberi nama An Nur. Oleh warga Bendosari, masjid ini tentunya memberi aura tersendiri. Selain masjidnya baru, juga menjadi catatan pembuka sejarah. Sejarah baru karena sejak kemerdekaan belum pernah ada sebuah masjid di kampung ini.
Siapa sebenarnya yang telah membangun masjid An Nur? Apakah dibangun secara swadaya oleh masyarakat? Atau mungkin bantuan dari pemerintah?
Setelah saya mendengarkan cerita dari warga sekitar, masjid tersebut ternyata dibangun secara mandiri. Dibangun oleh Pak Tugiman dengan menghabiskan dana sebesar 8 miliar. Bahkan lebih.
Kok mahal? Selain karena harus membeli tanah dari nol, juga lokasinya yang sangat strategis. Harga tanah di daerah tersebut tentunya juga sudah mahal.
Mahal tidak menjadi masalah. Yang penting bisa bermanfaat untuk kemaslahatan umat. Membangun masjid sekali namun pahalanya terus mengalir sampai besok.
Pak Tugiman merupakan seorang pengusaha. Namun dari itu, beliau tidak pelit. Beliau rela berbagi kepada sesama. Beliau juga dikenal oleh warga masyarakat sekitar sebagai orang yang gemar membangun tempat ibadah.
Tidak hanya itu. Belum lama ini beliau juga membeli sebidang tanah. Tanah tersebut kemudian langsung dibangun sebuah gedung sekolah. Setelah jadi, gedung sekolah tersebut kemudian diberikan kepada MI Ma'arif Kumpulrejo 02. Subhanallah.
Bila melihat lingkungan sekitar, orang yang kaya sebenarnya cukup banyak. Hanya saja, masih banyak orang kaya yang abai terhadap tetangganya sendiri; mempunyai motor lebih dari satu kadang sudah tidak mau menyapa kepada tetangganya sendiri, mempunyai mobil kadang semakin sombong dan lain sejenisnya.
Bila melihat kisah di atas, seharusnya kita dapat belajar dari Pak Tugiman. Meski sudah membangun masjid secara mandiri, namun beliau tetap low profil. Tidak berubah. Kita sesungguhnya dapat meniru jejak beliau. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 8 Januari 2023

Komentar
Posting Komentar