Kematian merupakan sesuatu yang bakal terjadi dan itu tidak dapat dihindari. Semua yang hidup pasti akan mati, entah kapan tanggalnya. Andaikan umur itu dapat dibeli, mungkin orang-orang kaya akan memilih membeli umur.
Kematian juga merupakan sebuah misteri. Yang sudah sakit lama kadang belum juga meninggal dunia. Sebaliknya, yang tidak sakit kadang tiba- tiba langsung meninggal dunia. Kasus yang seperti itu banyak terjadi di berbagai tempat.
Sekitar lima bulan yang lalu, tetangga saya yang berada di depan rumah meninggal dunia. Kebetulan beliau menjabat sebagai Bu RT. Beliau merupakan seorang penganut agama Kristen.
Saya pun ikut takziah. Bersama dengan para tetangga, saya ikut membantu keluarga yang sedang mendapatkan musibah. Ada yang mengangkat kursi plastik, mengambil keranda, membeli kain kafan dan lain sebagainya.
Saat itu meninggalnya pada hari Sabtu. Jenazah tidak langsung dikuburkan pada hari itu, melainkan esok harinya. Setelah malam harinya didoakan oleh para jamaahnya, hari Minggu jenazah tersebut dikubur di pemakaman setempat.
Sesaat sebelum berangkat ke makam, jenazah kembali didoakan. Dalam waktu yang tidak lama, datanglah sebuah mobil ambulans. Berwarna putih dan ada tulisannya hijau. Mobil tersebut ternyata milik PCNU Kota Salatiga.
Dalam hati saya bertanya, yang meninggal dunia warga Kristen namun mengapa ambulannya dari warga Islam?
Dari sini sesungguhnya dapat diambil pelajaran bahwa warga NU tidak pandang bulu. Siapa yang meninggal dunia, sekalipun tidak mempunyai agama, misalnya, boleh memanggil ambulans milik NU. Gratis kok, paling-paling yang mempunyai rumah kadang memberikan uang rokok kepada sopir.
Dari sini pula dapat diambil nilai toleransi antar umat beragama. Apapun agamanya sesungguhnya dapat mencontoh mobil ambulans NU yakni dalam hal tolong-menolong kepada antar sesama. Salam.
Salatiga, 10 Februari 2022
Komentar
Posting Komentar