Suatu saat saya pergi ke kampung halaman. Saya bertemu dengan pegawai kecamatan yang mana adalah teman saya sendiri sewaktu SD hingga SMP. Di sana saya berbincang banyak hal. Hal yang pertama ia tanyakan kepada saya adalah sudah mempunyai anak berapa.
Perbincangan pun menjadi semakin melebar. Ia kemudian menceritakan perihal pernah mengunjungi rumah seorang yang sekarang menjadi dosen di King Fahd University, Arab Saudi. Dosen tersebut bernama Prof. Sumanto Al Qurtuby.
Ia kemudian berbincang dengan kakak Sumanto Al Qurtuby, yang mana berprofesi sebagai seorang modin kampung. Pak Modin pun melayaninya dengan baik. Menurut Pak Modin, adiknya yang sekarang menjadi seorang pengajar di Saudi Arabia dilaluinya dengan perjalanan dan perjuangan yang tidak ringan.
Ia pun kemudian berbicara panjang-lebar. Ia mengatakan kepada Pak Modin bahwa adiknya adalah seorang yang berpikiran sesat. Ia menganggap buku yang ditulis Sumanto yang berjudul Lubang Hitam Agama merupakan buku yang sesat.
Kritik Ilmiah
Ketika saya tanya apakah pernah membaca buku tersebut, ia menjawabnya belum pernah. Membaca saja belum pernah namun sudah berani menyesatkannya. Hanya membaca judul bukunya saja, ia sudah seenaknya menganggap Sumanto kurang waras.
Seharusnya, ia membaca buku tersebut secara keseluruhan. Kalau sudah membaca, mungkin akan menghasilkan cerita yang berbeda. Dari buku itulah ia kemudian mendapatkan wawasan dan kalau perlu dicatat atau diringkas bagian yang penting.
Umpama tidak setuju dengan Sumanto, tidak masalah. Ia "wajib" mengkritiknya. Mengkritiknya pun dengan logika ilmiah pula, yakni harus membuat buku sanggahan. Apabila hanya komentar saja, maaf, anak masih balita pun sudah pintar memberikan komentar.
Itulah yang namanya kritik ilmiah. Kritik ilmiah itu tidak perlu bersuara. Tunjukkanlah kritik ilmiah tersebut dengan sebuah tulisan. Mengkritik dengan tulisan, disadari atau tidak, jelas lebih sulit. Makanya tidak mengherankan kalau kritik ilmiah tersebut jelas lebih berbobot, bermoral serta berwibawa. Salam.
Salatiga, 15 Desember 2021
Komentar
Posting Komentar