Dunia pendidikan seakan minuman yang selalu dibutuhkan oleh manusia. Tidak hanya pendidikan formal saja, pendidikan non formal juga tetap dibutuhkan. Kedua pendidikan tersebut seakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Berbicara masalah pendidikan, ternyata saya mempunyai pengalaman yang menarik. Pengalaman ini sebenarnya sudah sekitar sepuluh tahun yang lalu. Bahkan lebih. Semoga tulisan sederhana ini memberikan manfaat kepada khalayak luas.
Tatkala sedang mengaji di pesantren, saya pernah diberikan sebuah cerita oleh seorang kyai. Kyai tersebut juga berprofesi sebagai dosen, petani dan juga pengusaha.
Beliau memiliki banyak santri. Beliau laksana insinyur pertanian. Meski bukan sarjana pertanian, namun beliau mampu membuat pupuk pertanian yang sudah cukup tersohor. Pupuk tersebut bernama NASA-F1.
Saat sedang menanam padi, beliau pernah didatangi oleh oknum "preman berseragam" yang menanyakan masalah perizinan pupuk tersebut. Beliau kemudian berdalih, bahwa pupuk yang dibuat merupakan pupuk organik yang tidak berbahaya. Harga pupuk tersebut juga tidak mahal, yakni sekitar 15-20 ribu rupiah.
Beliau sebenarnya paham bahwa kedatangan oknum "preman berseragam" ingin meminta uang pungutan liar. Dengan tegas beliau kemudian mengatakan, "Sana pergi, pupuk saya itu harganya murah, jangan dimintai pajak!"
Oleh karena mungkin seorang kyai, ia akhirnya pergi. Dengan mengenakan seragam lengkap, ia bagaikan menabur garam di lautan. Mendatangi seorang kyai dengan harapan mendapatkan uang, eh ternyata malah disuruh pergi.
Begitulah. Kehidupan di negeri ini tidak luput dari dunia premanisme. Anehnya, preman tersebut juga berasal dari institusi pemerintah, bukan dari kampung atau ormas yang ada di dalam masyarakat. Institusi yang sering menggunakan slogan mengayomi masyarakat, namun masih banyak oknum yang kelakuannya sebenarnya tidak mengayomi masyarakat namun sebaliknya. Mereka dengan basa-basi bertanya pada masyarakat yang sebenarnya ingin meminta uang pungutan liar.
Kini, beliau telah almarhum. Namun, kepergian beliau meninggalkan jejak kebaikan. Ilmu di pesantren, kampus dan perkampungan menjadi saksi nyata atas dedikasi ilmu beliau. Pupuk NASA-F1 juga menjadi saksi sejarah karena pupuk tersebut membantu menyuburkan berbagai macam tanaman. Salam.
Salatiga, 22 Desember 2021
Komentar
Posting Komentar