Inspirasi dari tulisan ini sebenarnya saya peroleh sekitar delapan tahun yang lalu. Tiba-tiba saya teringat kisah ini dan saya jadikan sebagai bahan tulisan.
Selepas shalat Jum'atan, saya mengunjungi kegiatan walimatul khitan yang berada di daerah Gendongan, Salatiga. Kegiatan tersebut merupakan hal yang lumrah terjadi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Warga masyarakat sekitar pun banyak yang berdatangan. Mereka mendoakan yang dikhitan sambil mengiringi komando dari seorang kyai kampung.
Setelah acara walimatul khitan selesai, warga masyarakat tentunya pulang ke rumahnya masing-masing. Namun, ada sebagian warga masyarakat yang tidak langsung pulang. Mereka kemudian disuguhkan kopi dan aneka makanan ringan oleh pemilik rumah.
Pemilik rumah sesungguhnya berprofesi sebagai seorang pengusaha. Beliau membuat caos dan kecap di dalam rumahnya. Beliau tentunya memiliki beberapa karyawan. Setelah siap edar, kecap dan caos tersebut kemudian dikunjungi para pedagang yang siap menjualnya kepada masyarakat luas.
Selain itu, beliau juga berprofesi sebagai ustadz. Sehari-hari beliau aktif di masjid; menjadi imam masjid, khutbah dan mengisi ceramah pengajian. Siapa saja yang membutuhkan bantuan ilmu agama, warga masyarakat biasanya bertanya pada beliau.
Dalam perbincangan sederhana itu, pemilik rumah bercerita kepada warga yang sedang merokok dan minum kopi. Beliau bercerita, bahwa pernah didatangi oknum "preman berseragam" yang mengenakan atribut lengkap. Intinya, ia ingin meminta uang sebagai jasa keamanan.
"Ini foto siapa, Pak?" kata oknum preman berseragam.
"Adik saya, yang bekerja di kantor Polisi Militer (PM) Salatiga," jawab penguasa caos.
Mendengarkan jawaban tersebut, oknum "preman berseragam" kemudian langsung pamit. Mau meminta uang keamanan kepada pengusaha caos, akhirnya tidak berani karena melihat foto seorang aparat yang berpakaian hijau doreng putih.
Begitulah kehidupan di negeri ini. Siapa yang sekiranya pengusaha sukses, dimintai pajak. Seorang yang berprofesi sebagai ustadz dan tahu akan ilmu agama serta berjalan "lurus", mau dimintai uang. Maka apalagi kalau warung tersebut berjalan "tidak lurus"? Semoga bermanfaat.
Salatiga, 19 Desember 2021
Komentar
Posting Komentar