Langsung ke konten utama

Menabunglah di Bank Milik Pemerintah!


Yang namanya duit hilang sampai sekarang kadang masih terjadi. Entah itu dicuri tuyul beneran ataupun tuyul "kepala hitam", namun keberadaan tuyul tersebut jelas meresahkan pemilik rumah. Kadang uangnya disimpan di dalam lemari, ketika mau digunakan untuk belanja ternyata sudah tidak ada. 

Atas dasar berbagai macam masalah mengenai uang yang hilang, warga masyarakat akhirnya menitipkan uangnya di bank. Ada yang menitipkan uang di bank milik pemerintah dan ada pula yang menitipkannya di bank swasta. 

Namun demikian, keberadaan bank tersebut jumlahnya semakin bertambah banyak. Baik bank milik pemerintah maupun swasta jumlahnya selalu meningkat dari waktu ke waktu. Semua itu tidak lain disebabkan karena jumlah penggunanya semakin bertambah banyak. Orang mau menjadi pengusaha besar biasanya harus hutang dahulu kepada bank. 

Adanya bank yang tidak dapat dibendung keberadaannya, ternyata membuka peluang bagi orang yang ingin berbuat jahat. Kalau dulu kejahatan bank masih minim, kini ternyata sudah berbanding seratus delapan puluh derajat. 

Sekitar satu bulan yang lalu, warga Salatiga digegerkan dengan keberadaan bank swasta (koperasi) yang menghilang begitu saja. Semua nasabah mau mengambil uangnya. Ketika bertanya pada salah seorang tetangga, menurutnya kantor bank tersebut sudah pindah. Ketika ditanya lebih dalam dimana alamat kantor barunya, ternyata ia tidak tahu. 

Begitulah dunia perbankan swasta. Bank swasta seperti KJKS, BMT, Kospin dan lain sejenisnya cenderung lebih rentan terhadap penipuan. Istilah kantor pindah namun dengan alamat yang tidak jelas menandakan bahwa bank tersebut adalah mau menghilang meninggalkan warga. 

Kasus penipuan di perbankan sebenarnya bukan kali pertama ini saja. Saya sudah sering mendengarkannya dari warga masyarakat. Ada yang disuruh menabung setiap hari dua ribu rupiah, misalnya, guna membeli parsel lebaran. Ketika sudah mau lebaran, ternyata pemilik bank tersebut kabur. Kelihatannya sederhana hanya dua ribu rupiah. Bila dalam satu pasar tradisional mau menabung, jelas akan ada nilainya. 

Mengapa menabung di bank swasta tidak aman? Karena tidak dijamin oleh Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS). Beda halnya kalau kita menabung di bank milik pemerintah, seperti BRI, BNI dan lain sebagainya. Umpama kita menabung, jelas uangnya lebih aman. Umpama ada pegawai yang nakal, misalnya, jelas lebih mudah dideteksi keberadaannya. 

Untuk itu, menabunglah di bank milik pemerintah! Jangan menabung di bank swasta. Menabung di bank milik pemerintah jauh lebih aman daripada bank swasta. Semoga bermanfaat.

Salatiga, 1 Desember 2021

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...