Minum kopi tampaknya sudah semakin melegenda. Jika dulu warung kopi jumlahnya masih terbatas, kini sudah berbanding terbalik. Bahkan, sebagian orang malah berlomba-lomba untuk membuat warung kopi di tepi jalan, tengah hutan dan tempat keramaian guna mencari uang. Berjualan kopi ditengarai sebagai usaha yang tepat di zaman sekarang ini guna menambah penghasilan.
Mahal pun tidak menjadi masalah, yang penting pembeli atau penikmat kopi merasa puas. Secangkir kopi dihargai tujuh lima ribu, misalnya, tidak terlalu menjadi beban asalkan apa yang diinginkan bisa terlaksana yaitu menikmati secangkir kopi lengkap dengan pemandangan yang indah.
Sayangnya, tidak semua warung kopi mempunyai pemikiran yang cerdas. Warung kopi kadang hanya berjualan kopi dan sejenisnya semata. Tidak memikirkan bagaimana agar pelanggan bisa merasa puas. Warung yang masih kotor, misalnya, kadang masih tetap diabaikan. Padahal, kebersihan pada umumnya merupakan idaman setiap orang.
Namun demikian, bila melihat kopi ternyata dapat diambil pelajaran yang menarik terutama tentang edukasi. Kopi yang bagus rasanya serta harganya agak miring akan didatangi banyak orang. Selain itu, warung kopi yang berani memberikan hadiah kepada pengunjung tentu akan semakin dicari banyak orang.
Tahukah top coffee gula aren? Kopi ini harganya cenderung lebih murah bila dibandingkan dengan temannya. Top coffee harganya masih tetap seribu rupiah. Bila melihat harga kopi saset pada umumnya harganya adalah seribu lima ratus rupiah. Bahkan, sebagiannya lagi harganya adalah dua ribu rupiah.
Lembaga pendidikan yang berani memberikan harga sedikit lebih murah serta berani memberikan hadiah kepada para mahasiswa maka akan dikunjungi banyak orang. Warga kampus akan memberikan kabar kepada tetangganya kalau kampus tersebut berani memberikan hadiah atau penghargaan kepada para mahasiswa yang mempunyai prestasi. Yang jelas, yang namanya "rasa" akan selalu terkenang dalam sanubari setiap individu.
Begitu pula dalam sebuah perbankan, misalnya. Siapa saja yang berani memberikan bunga lebih sedikit, maka akan dikunjungi dan dipakai banyak orang. Perbankan lain misalnya memberikan bunga tiga persen, apabila berani memberikan dua persen saja maka secara otomatis akan dicari oleh warga masyarakat. Selain itu, apabila perbankan berani memberikan hadiah kepada para nasabah maka akan semakin meningkatkan image-nya. Hasilnya, dari waktu ke waktu pengguna atau nasabah akan semakin bertambah banyak. Semoga bermanfaat.
Salatiga, 6 November 2021
Komentar
Posting Komentar