| image : bombastis |
Dunia teknologi sudah berjalan begitu cepat. Mau tidak mau orang harus mengikutinya. Siapa yang tidak mau mengikuti teknologi, maka ia akan ketinggalan zaman.
Namun demikian, dampak dari teknologi pasti ada dan itu tidak dapat dihindari. Bahkan, semakin hari dampak itu semakin terasa. Individualisme di dalam masyarakat adalah salah satu contohnya. Dampak negatif yang disebabkan oleh teknologi sesungguhnya jauh lebih besar daripada dampak positifnya. Kalau tidak hati-hati, maka manusia akan masuk ke dalam "jurang" negatif yang ditimbulkan teknologi.
Dulu, sekalipun anak masih sangat terbatas akan teknologi, namun kreatifitasnya sungguh sangat besar. Tidak mempunyai kalkulator untuk menghitung, misalnya, namun mempunyai cara yang sangat unik untuk menghitung. Tatkala saya masih kecil, anak-anak membawa sebilah potongan bambu ketika pelajaran matematika merupakan hal biasa.
Tidak hanya itu. Walaupun anak zaman dulu senang bermain di sawah, misalnya, namun perjuangan atau semangat belajar masih sangat tinggi. Hal itu bisa dilihat ketika anak-anak sedang belajar kelompok bersama. Mereka mengerjakan PR bersama serta memperbincangkan masalah pelajaran yang ada di sekolah.
Kini, zaman ternyata telah berubah. Meski anak-anak kecil setingkat SD sudah pintar bermain HP android, namun dalam hal belajar ternyata kurang begitu bersemangat. Saya sudah jarang melihat anak kecil belajar kelompok, baik di kota maupun di desa. Apabila anak-anak kecil bertemu, yang mereka perbincangkan bukan masalah pelajaran namun masalah game online dan lain sejenisnya.
Sering melihat HP jelas akan sangat berpengaruh terhadap karakteristik anak. Anak dulu dengan zaman sekarang itu sudah sangat berbeda. Dulu umpama melihat sejarah film PKI, misalnya, anak hanya akan melihat dan tidak sampai dipraktikkan.
Anak sekarang ternyata lebih mudah meniru apa yang telah dilihat. Makanya tidak mengherankan kalau film sejarah PKI sekarang ini sudah tidak boleh dilihat oleh anak kecil. Kalau film tersebut sampai diputar kembali, kemungkinan akan sangat berbahya. Anak akan meniru atau memperagakan apa yang ada di film tersebut, misalnya.
Begitu pula film yang ada di dalam YouTube atau tiktok. Belum lama ini saya melihat anak-anak setingkat SD yang memukuli pohon pisang hingga roboh. Hal itu dipicu lantaran anak kecil tersebut melihat video yang berjudul "Salam dari Binjai". Dalam video tersebut terlihat anak-anak yang sedang memukuli pohon pisang hingga akhirnya roboh. Sebagian atau bahkan siapa pun yang melihat video tersebut akhirnya meniru atau mempraktikkannya.
Sebelumnya juga pernah ada berita mengenai anak SD yang membanting temannya sendiri di sekolah. Korban bahkan sampai ada yang meninggal dunia. Kasus tersebut ditengarai disebabkan gara-gara pelaku sering melihat tayangan smack down di televisi.
Walhasil, zaman sekarang ternyata harus lebih berhati-hati. Tantangan orang tua zaman sekarang ternyata lebih besar. Siapa yang tidak berhati-hati maka akan lebih mudah terkena "virus" buruk. Orang tua harus berhati-hati terhadap apa yang dilihat anak-anaknya. Salam.
Salatiga, 7 November 2021
Komentar
Posting Komentar