Budaya lokal sesungguhnya sangat indah. Ada ratusan bahkan ribuan budaya lokal yang ada di negeri ini. Semua budaya tersebut menunjukkan jati diri sebuah wilayah. Budaya lokal tersebut semakin ke depan ternyata sudah agak sedikit musnah.
Entah karena mengapa, budaya lokal setempat cenderung pudar atau menghilang. Kemajuan zaman yang begitu cepat secara tidak langsung mempengaruhi keberadaan budaya lokal tersebut. Ada yang mengatakan bahwa budaya lokal adalah bid'ah, sesat, tidak sesuai dengan ajaran kitab suci dan lain sebagainya.
Satu hal yang sudah jarang muncul dalam pengamatan saya adalah pengajaran bahasa lokal (Jawa, karena di pulau Jawa) yang tidak diajarkan di sekolah. Dulu waktu saya masih bersekolah tingkat TK, bahasa Jawa diajarkan meskipun tidak begitu banyak. Sekarang fenomena tersebut sudah berbanding terbalik. Di dalam lembaga pendidikan setingkat TK saya sudah tidak pernah mendengar ada guru yang mengajarkan bahasa Jawa.
Sebuah lagu yang masih saya ingat adalah berjudul Sekolah Mangkat Dewe (Sekolah Berangkat Sendiri). Lagu tersebut liriknya kurang lebih seperti ini :
Saiki aku wis gedhe (Sekarang aku sudah besar)
Sekolah mangkat dewe (sekolah berangkat sendiri)
Ora pareng dieterake (tidak boleh diantarkan)
Bareng-bareng kancane (bersama teman-temannya)
Lagu tersebut kelihatannya sederhana, namun sangat membekas dalam sanubari. Anak kecil zaman dahulu secara tidak langsung mengerti bahasa Jawa, meski hanya satu-dua patah kata. Dari sepatah kata tersebut akhirnya menjadi modal dan pada urutannya bisa berbahasa Jawa.
Merekonstruksi Ulang Kurikulum
Kini, zaman telah berubah. Lembaga pendidikan hendaknya mengajarkan tentang kebudayaan, termasuk bahasa Jawa. Anak kecil sudah banyak yang tidak bisa berbahasa Jawa, meskipun berasal dan hidup di tanah Jawa. Orang tua di rumah pun juga banyak yang tidak mengajarkan bahasa Jawa kepada anaknya. Mereka kebanyakan lebih mengajarkan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional.
Kalau anak kecil sudah tidak bisa bahasa Jawa, yang perlu disalahkan adalah orang tuanya sendiri. Pendidikan dari rumah merupakan komponen yang pertama. Selain itu, lembaga sekolah juga perlu disalahkan karena sudah tidak mengajarkan tentang bahasa atau budaya lokal.
Dari sini hendaknya sekolah dapat mengubah sistem agar menggelorakan bahasa Jawa kembali. Kalau sekolah mengajarkan bahasa lokal, jelas akan berpengaruh terhadap kelestarian bahasa lokal itu sendiri. Jika sekolah tidak mengajarkan bahasa lokal maka penyesalan pasti akan terjadi dan saat ini sudah mulai terasa. Salam.
Salatiga, 8 November 2021
Komentar
Posting Komentar