Sejak masih kecil, selepas pulang sekolah, saya selalu pergi ke kebun untuk menggembala kambing. Kegiatan yang seperti itu hampir saya lakukan setiap hari, hingga sudah seperti rutinitas. Ketika libur sekolah datang, saya pun lebih bersemangat untuk pergi ke kebun guna menggembala kambing.
Orang Jawa menyebutnya dengan istilah angon wedus. Oleh karena tetangga juga masih banyak yang mempunyai kambing, maka tidak ada yang merasa terganggu karenanya. Para tetangga juga memiliki kotoran kambing, sehingga apabila ada tetangga yang mengeluarkan bau yang kurang sedap maka tidak ada yang marah.
Seiring perkembangan zaman, oleh karena semakin bertambahnya penduduk, maka lahan rumah semakin sempit. Warga masyarakat sudah banyak yang tidak mempunyai kebun yang luas. Mereka hanya mempunyai kebun yang kecil, yang hanya dapat digunakan untuk parkir mobil dan sepeda motor.
Sekarang pun bila mengunjungi kampung halaman saya sudah tidak melihat seorang tetangga yang mempunyai kambing. Menurut salah seorang tetangga, belum lama ternyata masih ada yang memiliki kambing. Oleh karena para tetangga banyak yang merasa terganggu, yang bersangkutan akhirnya merasa sungkan dengan sendirinya. Hingga akhirnya kambing yang ia miliki dijual kepada pedagang.
Ketika angon kambing, dulu saya pernah dimarahi bapak. Maklum, ketika itu masih kecil dan masih minim pengalaman. Kambing yang berada di kebun saya tinggal sebentar ke sungai. Sekembalinya dari sungai ternyata ada seekor kambing yang mati. Di dalam mulut kambing tersebut ternyata terdapat daun kopi.
Kata bapak, ketika sedang angon, kita tidak boleh terlalu lama meninggalkan kambing. Kambing memang akan muntah manakala makan daun kopi. Kambing akan mual karenanya. Bahkan, kalau tidak beruntung, kambing pun bisa mati seperti yang telah saya alami.
Kini, kambing yang saya punya telah tiada. Tetangga pun sudah tidak ada yang punya. Namun dari itu, paling tidak saya sudah pernah mendapatkan pengalaman menjadi seorang penggembala kambing.
Salatiga, 19 Mei 2020
Komentar
Posting Komentar