Dunia politik itu unik. Ia akan selalu diperbincangkan banyak orang. Siapa yang berduit, dalam dunia politik biasanya akan menang. Sebaliknya, siapa yang tidak berduit maka akan kalah.
Belakangan ini, partai berlogo banteng digegerkan dengan seorang ketua DPC yang mengundurkan diri dari ketua sekaligus mengundurkan diri sebagai anggota DPRD Kota. Publik sempat dibuat geger.
Alasannya satu, karena internal partai tersebut terjadi konflik yang cukup akut. Konflik tersebut ditengarai karena modal atau biaya yang harus dikeluarkan dalam jumlah yang cukup besar guna kepentingan partai.
Coba disimak! Giliran mengeluarkan uang banyak, ia akhirnya mengatakan semuanya. Keburukan internal partai akhirnya dibongkar. Ia sebenarnya sudah cukup jenak menikmati posisinya. Empat kali menduduki jabatan sebagai ketua DPC dan juga berkali-kali menjabat sebagai anggota DPRD Kota.
Sebatas penelusuran yang saya tahu, ia merupakan "singa berseragam". Oleh karena singa, ia pun ditakuti oleh teman-temannya. Ia ibarat seorang raja yang selalu menjadi pemimpin di sebuah keraton.
Ada tender atau proyek, ia melelang proyek tersebut. Bersama dengan teman-temannya, ia menjadi pemimpin dalam melelang proyek saat masih menjadi ketua DPRD Kota. Siapa yang paling menguntungkan dan berani harga mahal, maka yang akan diambil.
Tidak hanya itu saja. Sebelum proyek dimulai, ia datang dulu ke pimpinan perusahaan yang akan mengerjakan proyek. Ia ibarat "preman berdasi". Ia meminta sejumlah uang kepada pimpinan perusahaan tersebut. Apabila tidak disetujui, maka ia akan mengganti perusahaan lain yang sekiranya lebih menguntungkan.
Begitulah kehidupan politik di negeri ini. Dunia suap-menyuap sudah menjadi tradisi. Sejak dulu, sekarang dan bahkan yang akan datang akan sangat sulit dihilangkan. Bukan tanpa sebab. Mereka melakukan seperti ini karena juga untuk mengembalikan modal sekaligus mencari keuntungan.
Ketika sudah tidak mendapatkan jabatan yang penting, ia akhirnya membongkar kedok atau bobroknya internal partainya. Ketika dulu masih menjabat, ia diam-diam saja karena menjadi raja segala raja.
Habis manis sepah dibuang. Begitulah kira-kira perumpamaan yang cocok. Ibarat makan tebu, maka sampahnya dibuang. Kalau ia saat ini masih menjabat ketua DPR, misalnya, mungkin ceritanya akan berbeda.
Salatiga, 17 November 2021
Komentar
Posting Komentar