Langsung ke konten utama

Gus Baha' dan Menolak Diberi Gelar Doktor Kehormatan

image : liputan 6

Siapa yang tidak mengenal Gus Baha'? Bagi warga masyarakat yang suka mendengarkan ceramah pengajian melalui YouTube biasanya sudah mengenal beliau. Bahasanya mudah dipahami ketika mengisi pengajian. Selain itu, dalam mengisi pengajian biasanya diselipi humor sehingga acara pengajian pun akan semakin lebih menarik. 

Beliau juga merupakan seorang dosen di kampus Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Meskipun bukan seorang akademisi namun beliau ternyata juga mampu menjadi seorang dosen. Beliau dianggap mampu dan mumpuni di bidang keilmuan keagamaan Islam. Sebagaimana UU Guru dan Dosen nomor 14 tahun 2005, seorang yang memiliki kelebihan khusus bisa diangkat menjadi dosen. 


Beliau kadang dipanggil oleh Najwa Shihab untuk mengisi acara Mata Najwa. Ayah Najwa, Prof. M. Quraish Shihab, mengatakan bahwa beliau bukan orang sembarangan. Meski bukan seorang akademisi, namun beliau dianggap mampu dan bahkan keilmuannya dalam bidang tafsir sudah tidak diragukan lagi. 


Di saat seseorang kadang berlomba-lomba untuk mendapatkan gelar doktor kehormatan (honoris causa), saya jadi terbayang Gus Baha'. Di Indonesia, gelar honoris causa begitu sangat mudah didapatkan, utamanya kepada para pejabat. Bahkan tak jarang "politik" pun dimainkan agar bisa memperoleh gelar kehormatan setingkat strata tiga. 


Tidak hanya gelar doktor honoris causa yang begitu mudah diperoleh. Gelar doktor resmi kuliah strata tiga pun juga mudah didapatkan, utamanya para pejabat. Lihatlah lingkungan sekitar, tengoklah mereka yang menjabat sebagai kepala daerah ataupun DPR. Mereka dengan begitu mudah memperoleh gelar akademik tertinggi di dalam kampus. 


Kadang warga masyarakat sekitar sampai bingung, mengapa tidak pernah mendengar kuliah namun kok tiba-tiba bisa memperoleh gelar doktor? Uanglah yang ternyata berbicara. Padahal, untuk memperoleh gelar doktor tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama, minimal tiga tahun. Itu pun kalau yang kuliahnya lancar dan tidak mempunyai pekerjaan sampingan. Bila itu orangnya sudah mempunyai pekerjaan dan apalagi menjabat posisi penting, kadang sampai tujuh tahunan. 


Untungnya, zaman sekarang waktunya dibatasi oleh pemerintah. Mahasiswa setingkat doktor maksimal hanya tujuh tahun dalam menempuh studi. Apabila dalam waktu tersebut tidak mampu, pilihannya ada dua yaitu dieliminasi dari kampus atau mulai registrasi ulang dari awal. Dulu, sebelum ada aturan terbaru, mahasiswa setingkat doktor ada yang sampai 15 tahun baru lulus. 


Gus Baha' merupakan seorang ulama yang tidak mau diberikan gelar kehormatan doktor. Dari kampus UII sudah merekomendasikan agar beliau diberikan gelar doktor kehormatan, namun beliau menolaknya. Mungkin beliau berprinsip agar tetap menjaga ciri khas seorang santri tradisional.


Ulama yang memperoleh gelar doktor sebenarnya bukan hal yang asing di negeri ini. Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan belum lama ini mendapatkan gelar doktor kehormatan dari UNNES. Istri almarhum Gus Dur sebelumnya juga mendapatkan gelar doktor kehormatan dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mantan menteri agama Suryadharma Ali juga mendapatkan gelar kehormatan dari kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tak ketinggalan, Wakil Presiden periode 2019-2024 KH. Ma'ruf Amin pada tahun 2012 juga telah mendapatkan gelar doktor kehormatan dari kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pada tahun 2017 dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu ekonomi syariah di kampus UIN Malang.


Di saat orang berlomba-lomba untuk memperoleh gelar doktor (baik HC maupun asli), kita seharusnya belajar dari Gus Baha'. Apalah artinya gelar sebuah doktor apabila itu diperoleh dengan cara yang kurang bagus? Bukankah orang belajar itu pada intinya agar akhlaknya menjadi semakin baik? Semoga bermanfaat. 


Salatiga, 1 Agustus 2021

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...