Kalau mau berbicara secara jujur, pondok pesantren tradisional (salafiyah) boleh dikatakan agak katrok, kuno, tidak mengikuti arus perkembangan zaman dan lain sebagainya. Kurikulum yang tidak jelas, membuat sebagian orang berpikir bahwa pesantren tradisional juga semakin kurang bermutu. Justru inilah yang menjadi salah satu keunikan dari pesantren salafiyah.
Di tengah arus globalisasi yang berjalan begitu cepat, kecanggihan akan internet tentunya tidak bisa dihindari. Namun pesantren juga tetap masih menjaga ketradisionalannya. Sebagian pesantren modern sudah banyak yang menggunakan media internet dalam kegiatan pembelajarannya. Sementara pesantren tradisional, orang mau berbicara apa, masih tetap bertahan di tengah modernitas.
Dalam dunia pesantren diajarkan sikap tawadhu'. Figur seorang Kyai yang cukup sentral menjadikan bahwa pembelajaran harus melalui seorang murabbi (guru, ustadz, kyai). Meskipun belajar sendiri dengan membaca kitab terjemahan sebenarnya bisa, misalnya, dalam dunia pesantren hal yang begitu tidak berlaku. Seorang santri harus ada yang membimbingnya.
Makanya tidak mengherankan, cukup banyak di lingkungan kita yang pemahamannya agak sedikit kacau. Mereka memahami teks kadang hanya menggunakan logika semata. Padahal, teks tersebut kadang juga membutuhkan iman. Akibatnya, pemahamannya pun kacau. Bahkan, kalau tidak beruntung bisa-bisa sampai ngebom negara, misalnya.
Kyai Chudlori Tegalrejo Magelang, dalam ceritanya boleh dikatakan agak nyleneh. Suatu saat warga masyarakat mengumpulkan uang untuk pembangunan masjid. Oleh Kyai Chudlori, uang tersebut malah digunakan untuk membeli seperangkat gamelan. Warga masyarakat saat itu banyak yang bertanya-tanya di dalam hatinya," Kyai kok aneh?"
Setelah membeli gamelan, kemudian warga masyarakat disuruh untuk latihan dan membuat grup pertunjukan seni budaya gamelan. Ternyata peminatnya banyak. Grup tersebut sering tampil di berbagai kota. Uang dari hasil pentas kemudian digunakan untuk membangun masjid. Masjid pun akhirnya cepat selesai dikerjakan.
Warga akhirnya tahu, bahwa inilah sebenarnya yang diinginkan Kyai Chudlori. Kyai Chudlori sebenarnya berpikiran maju, hanya saja tidak berbicara di awal. Umpama tidak membeli gamelan, mungkin masjid tersebut kala itu tidak segera jadi.
Di daerah Tegalrejo, cukup banyak grup kesenian kuda lumping. Beliau tidak mengatakan bahwa kuda lumping itu haram, bid'ah dan lain sebagainya. Beliau malah mengundang grup kuda lumping untuk hadir ke pondok pesantren setiap ada kegiatan khataman Al-Qur'an. Secara perlahan, anggota grup kuda lumping tersebut akhirnya sadar dan berhijrah dari abangan menjadi Islam. Itulah salah satu strategi cerdas beliau.
Para ulama seharusnya banyak belajar dari beliau, bahwa pendekatan budaya itu sangat penting dalam syiar Islam. Tidak usah berkoar-koar syirik, haram, bid'ah dan lain sebagainya. Tidak perlu itu. Yang diperlukan adalah bagaimana kita mengambil hati mereka. Pendekatan dengan mengambil hati biasanya lebih mengenang dan lebih mudah berhasil. Salam.
Salatiga, 13 Maret 2021
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar