Langsung ke konten utama

Preman Berseragam

ilustrasi : LPM Al Milah

Akhir-akhir ini, kepolisan melakukan operasi besar-besaran dalam rangka pembersihan preman di Tanah Air. Hal itu merupakan instruksi langsung dari Presiden Joko Widodo. Menurutnya, negara tidak boleh kalah dengan preman. 


Tukang parkir ilegal ditangkap, tukang palak diamankan, tukang meminta uang pungutan liar di jalan raya diangkut ke dalam truk, dan lain seterusnya. Pemerintah melakukan seperti ini tentunya tidak masalah. Negara mempunyai kewajiban kepada warganya agar selalu merasa tenang dan nyaman. Apalah artinya kemakmuran apabila bangsa ini selalu bentrok dan tidak nyaman? 


Namun dari itu, pemerintah kadang lalai dengan preman yang "berseragam". Preman berseragam inilah yang sebenarnya justru lebih membahayakan bagi warga masyarakat, utamanya orang kaya. Alih-alih mengamankan kepada sejumlah pihak, "preman berseragam" ini sebenarnya tidak jelas sistem kerjanya. 


Alfamart, Indomaret dan supermarket dimintai pajak tiap bulan. Toko emas harus setor sebagai jasa keamanan. Toko besi dan kaca harus memberi upeti sebagai jasa pengaman. Bahkan, penjual kaset CD bajakan di pasar juga harus memberi jatah tiap bulan kepada "preman berseragam". Mengapa? Karena CD bajakan itu adalah ilegal. Kalau tidak membayar pajak bulanan, maka penjual CD akan "diangkut" ke dalam sel. Disadari atau tidak, mereka sebenarnya lebih ganas daripada preman jalanan itu sendiri. 


Adalagi warung 'obat kuat'. Para pedagang obat kuat harus setor setiap bulan kepada oknum "preman berseragam". Mengapa? Di dalam warung tersebut ada sebagian obat yang belum mendapatkan izin dari Dinas Kesehatan. Ketika akan ada penggrebekan atau sidak dari Dinas Kesehatan setempat, mereka biasanya ditelpon dulu oleh oknum "preman berseragam" untuk menutup warungnya sementara. Kalau warungnya tutup, pihak Dinas Kesehatan pun akhirnya membatalkan sidak ke warung 'obat kuat'. 


Pandemi Corona yang sedang melanda negeri ini, ternyata juga dimanfaatkan oleh sebagian oknum "preman berseragam". Ada orang menikah, harus izin dahulu kepada instansi "preman berseragam". Mereka mungkin saja akan memberikan izin, namun ada aturan khususnya. Siapa yang hanya izin dan tidak memberikan upeti maka akan didatangi oleh sekelompok "preman berseragam". Sebaliknya, siapa yang akan mengadakan acara resepsi pernikahan kemudian izin serta memberikan upeti maka mereka akan diam. 


"Yang penting di acara pernikahan selalu tertib dan mematuhi protokol kesehatan ya!" pesannya kepada warga masyarakat yang sudah memberikan amplop terlebih dahulu. 


Pemerintah sebenarnya sudah tahu tentang hal ini, hanya saja pura-pura tidak tahu-menahu. Atau, mungkin saja mereka mendiamkan hal ini, karena kalau diungkit boleh dikatakan akan mengotori institusi "preman berseragam" itu sendiri. 


Jasa keamanan atau pemberian upeti kepada pihak-pihak terkait sebenarnya warisan Belanda dan itu sampai sekarang masih tetap berlanjut. Menghilangkan dunia premanisme di negeri ini boleh dikatakan tidak akan berhasil sempurna. Umpama berhasil membereskan premanisme, itu pun hanya sebentar dan setelah itu biasanya akan kembali seperti sedia kala. 


Siapakah sebenarnya "preman berseragam" itu? 


Salatiga, 20 Juni 2021  

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...