Langsung ke konten utama

Waspada, Anak SD Jangan Belikan HP!



Saat sedang membeli pulsa, secara tidak sengaja saya bertemu dengan seorang teman lama. Ia kemudian menceritakan perihal anaknya yang sulit diatur sejak pandemi Corona. Pembelajaran sekolah yang banyak dilakukan dengan sistem daring, ternyata memiliki banyak dampak negatif. Selain mengeluarkan pulsa lebih, kalau tidak hati-hati justru penggunaan HP yang dimainkan oleh anak-anak lebih rentan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. 

"Ingin merusak anak, gampang, belikanlah anakmu HP android, niscaya akan lebih mudah rusak," candanya kepada saya. 

Perkataan itu mungkin sangat sederhana dan cenderung guyonan. Setelah saya diam sejenak dan berpikir, ternyata mungkin saja banyak benarnya. 

Logika sederhananya sangat jelas. Saya sendiri kurang begitu menguasai ilmu teknologi. Bisa memegang HP, itu pun hanya sekedar bisa. Tidak bisa mengoperasikan yang aneh-aneh. Lain dengan teman-teman yang lebih canggih dalam menguasai teknologi.

Tidak usah bergaul dengan anak yang agak nakal, misalnya. Tidak perlu. Anak yang terlalu sering bermain HP android jelas akan mudah rusak otaknya. Apalagi ketika sampai dibelikan HP, jelas akan semakin gampang rusak. Tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri. 

Saya kadang berpikir, konten-konten yang kurang mendidik dengan mudah muncul di layar monitor. Kalau itu dilihat anak kecil, tentu akan sangat berbahaya. Ditambah lagi orang tuanya yang kurang ahli mengoperasikan HP, akan sangat membahayakan bagi pemikiran anak kecil. Tidak mengherankan kalau zaman sekarang tingkat pencabulan, pemerkosaan dan lain sejenisnya cenderung lebih tinggi. Salah satu hal tersebut disebabkan karena penggunaan HP yang kurang digunakan sebagaimana mestinya. 

Bila melihat lingkungan sekitar, setingkat SMP sudah dipameri permainan game online yang semakin canggih. Pulsanya pun harus membeli, tidak bisa menggunakan Wi-Fi. Orang tua yang tidak mengerti kadang kebingungan. Anaknya minta uang 50 ribu, misalnya, untuk membeli kuota internet. Kalau tidak dituruti, oleh karena sudah ketagihan, anaknya akan membanting sesuatu yang ada di dalam rumahnya. 

Akhirnya, orang tuanya pun mengikuti jejak anaknya. Prinsipnya anaknya diam dan mampu melakukan apa yang diinginkannya. Padahal, bila itu berlangsung secara lama, jelas akan sangat membahayakan bagi siapa pun. 

Otak anak jelas akan rusak, karena di dalam game online ternyata mengandung banyak "racun" yang itu tidak banyak diketahui banyak orang. Pengeluaran orang tua juga akan membengkak apabila tidak mampu membendungnya. Hubungan anak dengan teman-teman atau tetangganya akan sedikit memudar kalau terlalu asyik bermain game online di depan HP. Anak menjadi malas atau tidak mau belajar, dan masih banyak lagi yang lainnya, yang kemungkinan besar semakin hari akan semakin bertambah. 

Ingin merusak anak atau tidak? Semoga dengan tulisan sederhana ini kita mampu berpikir bahwa membelikan HP untuk anak kecil itu belum saatnya. Membelikan HP anak di waktu kecil ibarat meracuni anak namun tidak terasa. Lebih baik anak dikatakan ndeso dan norak namun akhlaknya bagus, daripada ahli bermain HP namun kurang adaptif terhadap teman-teman atau tetangga sekitarnya. Semoga bermanfaat. 

*Catatan : Tulisan ini bukan bermaksud untuk mendidik yang tidak benar. Sama sekali tidak. Tulisan ini berawal ketika saya sedang bercanda dengan seorang teman. Setelah saya berpikir, kemudian saya kembangkan menjadi sebuah judul artikel pendek. 

Salatiga, 2 Juli 2021

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...