Saat sedang membeli pulsa, secara tidak sengaja saya bertemu dengan seorang teman lama. Ia kemudian menceritakan perihal anaknya yang sulit diatur sejak pandemi Corona. Pembelajaran sekolah yang banyak dilakukan dengan sistem daring, ternyata memiliki banyak dampak negatif. Selain mengeluarkan pulsa lebih, kalau tidak hati-hati justru penggunaan HP yang dimainkan oleh anak-anak lebih rentan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan.
"Ingin merusak anak, gampang, belikanlah anakmu HP android, niscaya akan lebih mudah rusak," candanya kepada saya.
Perkataan itu mungkin sangat sederhana dan cenderung guyonan. Setelah saya diam sejenak dan berpikir, ternyata mungkin saja banyak benarnya.
Logika sederhananya sangat jelas. Saya sendiri kurang begitu menguasai ilmu teknologi. Bisa memegang HP, itu pun hanya sekedar bisa. Tidak bisa mengoperasikan yang aneh-aneh. Lain dengan teman-teman yang lebih canggih dalam menguasai teknologi.
Tidak usah bergaul dengan anak yang agak nakal, misalnya. Tidak perlu. Anak yang terlalu sering bermain HP android jelas akan mudah rusak otaknya. Apalagi ketika sampai dibelikan HP, jelas akan semakin gampang rusak. Tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri.
Saya kadang berpikir, konten-konten yang kurang mendidik dengan mudah muncul di layar monitor. Kalau itu dilihat anak kecil, tentu akan sangat berbahaya. Ditambah lagi orang tuanya yang kurang ahli mengoperasikan HP, akan sangat membahayakan bagi pemikiran anak kecil. Tidak mengherankan kalau zaman sekarang tingkat pencabulan, pemerkosaan dan lain sejenisnya cenderung lebih tinggi. Salah satu hal tersebut disebabkan karena penggunaan HP yang kurang digunakan sebagaimana mestinya.
Bila melihat lingkungan sekitar, setingkat SMP sudah dipameri permainan game online yang semakin canggih. Pulsanya pun harus membeli, tidak bisa menggunakan Wi-Fi. Orang tua yang tidak mengerti kadang kebingungan. Anaknya minta uang 50 ribu, misalnya, untuk membeli kuota internet. Kalau tidak dituruti, oleh karena sudah ketagihan, anaknya akan membanting sesuatu yang ada di dalam rumahnya.
Akhirnya, orang tuanya pun mengikuti jejak anaknya. Prinsipnya anaknya diam dan mampu melakukan apa yang diinginkannya. Padahal, bila itu berlangsung secara lama, jelas akan sangat membahayakan bagi siapa pun.
Otak anak jelas akan rusak, karena di dalam game online ternyata mengandung banyak "racun" yang itu tidak banyak diketahui banyak orang. Pengeluaran orang tua juga akan membengkak apabila tidak mampu membendungnya. Hubungan anak dengan teman-teman atau tetangganya akan sedikit memudar kalau terlalu asyik bermain game online di depan HP. Anak menjadi malas atau tidak mau belajar, dan masih banyak lagi yang lainnya, yang kemungkinan besar semakin hari akan semakin bertambah.
Ingin merusak anak atau tidak? Semoga dengan tulisan sederhana ini kita mampu berpikir bahwa membelikan HP untuk anak kecil itu belum saatnya. Membelikan HP anak di waktu kecil ibarat meracuni anak namun tidak terasa. Lebih baik anak dikatakan ndeso dan norak namun akhlaknya bagus, daripada ahli bermain HP namun kurang adaptif terhadap teman-teman atau tetangga sekitarnya. Semoga bermanfaat.
*Catatan : Tulisan ini bukan bermaksud untuk mendidik yang tidak benar. Sama sekali tidak. Tulisan ini berawal ketika saya sedang bercanda dengan seorang teman. Setelah saya berpikir, kemudian saya kembangkan menjadi sebuah judul artikel pendek.
Salatiga, 2 Juli 2021

Komentar
Posting Komentar