Dalam perbincangan sederhana dengan seorang teman, saya mengatakan, "Penyakit jantung, gula, darah tinggi dan lain sebagainya sekarang kok sepi ya?" Seorang teman pun menanggapinya, "Iya, sekarang sepi. Saat ini yang sedang hits adalah penyakit Corona."
Coba simak perbincangan di atas! Bila dicermati secara saksama, pernyataan tersebut cenderung guyonan namun serius. Apakah Corona adalah pengalihan isu belaka? Apakah Corona hanyalah alat yang digunakan oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan?
Yang namanya virus sejak zaman nabi Adam itu sudah ada. Virus Corona keberadaannya juga ada, hanya saja kadang ambigu. Dikatakan ada karena memang sudah banyak yang menjadi korbannya. Dikatakan tidak ada karena memang sangat sulit dideteksi. Lebih-lebih, sebagian rumah sakit memang sengaja meng-corona-kan manusia.
Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI Moeldoko, pernah berkata akan hal itu. Menurut beliau, ada sebagian rumah sakit yang memang sengaja meng-corona-kan manusia. Bila mau melihat realitas di lapangan, bahkan hampir sebagian besar rumah sakit meng-corona-kan manusia. Corona malah disalahgunakan untuk lahan bisnis.
Bagi saya pribadi, Corona itu memang ada, hanya saja janggal. Alat sudah semakin canggih, mengapa yang menjadi patokan utama adalah suhu manusia? Orang yang bersuhu di atas 38 derajat, misalnya, sudah dikatakan terkena gejala corona.
Orang yang baru saja pulang mencangkul dari sawah, oleh karena masih lelah tubuhnya, ketika dites suhu tubuhnya pasti otomatis tinggi. Orang baru saja menggergaji kayu besar yang belum istirahat ketika dicek suhunya pasti akan tinggi. Pertanyaannya, orang yang jelas-jelas sehat secara fisik masak dikatakan mengidap penyakit corona?
Warga masyarakat sudah banyak yang tahu tentang hal ini. Istilah kalau Corona memang sengaja dibesar-besarkan oleh pihak yang berkepentingan sudah bukan merupakan hal yang asing dalam telinga masyarakat. Warga masyarakat akhirnya curiga dengan para tenaga kesehatan, mengapa Corona itu dibesar-besarkan atau dibuat fulgar di negeri ini?
Sejak zaman dahulu, warga masyarakat sebenarnya sudak agak muak dengan para dokter di rumah sakit. Sejak dari dulu pula, banyak oknum dokter yang bekerja kurang profesional dalam menangani pasien. Bila mau survei ke lapangan secara langsung, misalnya, tampaknya juga masih banyak oknum dokter dan tenaga kesehatan yang kurang "bijak" dalam memperlakukan pasien. Artinya, dari dulu sampai sekarang ternyata tidak ada bedanya.
Emha Ainun Najib atau yang lebih akrab disapa Cak Nun pernah menyinggung tentang rumah sakit. Menurutnya, penggunaan kata 'rumah sakit' adalah kurang tepat. Yang lebih tepat menurut Cak Nun adalah 'rumah sehat'.
Mengapa 'rumah sehat'? Karena harapannya setelah berobat dari sana adalah agar lebih sehat; baik secara lahir maupun batin. Istilah 'rumah sehat' secara tidak langsung juga mengandung doa kepada Tuhan agar setelah berobat menjadi lebih sehat. Kenyataannya, bila orang baru saja pergi dari pengobatan, apakah lebih sehat?
Merebaknya orang yang sakit atau malah meninggal dunia setelah divaksin akhirnya semakin membuat takut warga masyarakat. Warga akhirnya pun banyak yang takut untuk disuntik vaksin. Warga masyarakat pun akhirnya bertanya-tanya, ini mengobati warga masyarakat atau memang sengaja ingin "membunuh" warga masyarakat?
Salatiga, 24 Juli 2024

Komentar
Posting Komentar