![]() |
| image : nu online |
Beberapa hari yang lalu, di pinggiran Kabupaten Semarang, saya memperoleh informasi tentang "kejahatan" dalam dunia pendidikan. Ceritanya, seorang teman yang berprofesi sebagai guru MI didatangi oleh Kepala Desa setempat gara-gara MI membludak peminat sementara SD sepi.
Tidak dapat dipungkiri, warga masyarakat zaman sekarang banyak yang memilih bersekolah di MI, SDIT, SD Islam Plus, dan lain sebagainya. SD Negeri zaman sekarang kurang begitu diminati warga masyarakat. Warga masyarakat ternyata sudah cerdas dalam menentukan pilihan untuk anak-anaknya.
Sekalipun agak mahal, misalnya, tidak menjadi masalah. Orang tua berpikir maju tentang kualitas pendidikan. Di MI dan sejenisnya biasanya ilmu keislamannya lebih unggul bila dibandingkan dengan SD Negeri yang ada di dalam masyarakat.
Oleh karena MI ramai dan SD sepi peminat, guru di SD tersebut bermusyawarah dan mendatangi Kepala Desa, yang mana merupakan orang nomor satu di desa tersebut. Kepala desa akhirnya mendatangi MI dan meminta untuk memberikan sebagian siswanya kepada SD.
Guru di MI tersebut akhirnya rapat kecil-kecilan dan mengundang wali peserta didik. Dalam musyawarah tersebut, ternyata wali peserta didik bersikeras untuk tidak mau pindah dari MI. Mereka menginginkan agar anaknya tetap belajar di MI. Salam.
Suruh, 26 Juni 2021

Komentar
Posting Komentar