Di antara sekian banyak pedagang angkringan yang saya kunjungi, ternyata ada sebagian pedagang yang rela tidak berdagang dalam waktu cukup lama karena menghormati tetangga di kampung halamannya. Ialah warga daerah Bayat, Klaten. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Sebagaimana diketahui, pedagang angkringan konon berasal dari daerah Bayat Klaten. Ada yang menyebut dengan warung sego kucing. Ada pula yang menyebutnya warung HIK (Hidangan Istimewa Kampung). Namun, selama ini istilah yang paling populer adalah warung angkringan.
Awal mulanya pedagang HIK di daerah Bayat berjalan mengelilingi perkampungan, memikul nasi dengan bambu yang sudah dibuat sedemikian rupa. Awal mulanya kurang begitu laku. Setelah cukup lama berjalan, warga masyarakat akhirnya banyak yang membeli. Saking banyaknya yang membeli, akhirnya pedagang HIK pun membuka tenda yang dilengkapi gerobak di perkampungan atau di tepi jalan.
Sampai sekarang, warung angkringan menjadi kuliner yang cukup favorit bagi sebagian warga masyarakat. Selain harganya terjangkau, warga dapat memilih sesuai selera. Warung angkringan biasanya digemari oleh kalangan mahasiswa dan masyarakat menengah ke bawah.
Namun demikian, dari sekian banyak pedagang angkringan yang pernah saya temui ternyata ada satu pedagang yang bercerita kepada saya mengenai kekompakan berhenti berdagang sejenak dalam rangka takziah kepada tetangganya. Ia berasal dari Bayat Klaten, tempat di mana warung angkringan itu berasal.
"Saya lewat sini kok kamu sudah lama tidak buka?" tanya saya. "Iya, om. Saya baru takziah tetangga di kampung halaman," jawab pedagang angkringan.
Ia menjelaskan, ketika ada tetangga di kampung halamannya yang meninggal dunia, maka ia harus pulang sejenak. Begitu pula dengan teman-temannya yang berada di lain kota. Yang di Salatiga, pulang ke Bayat, Klaten. Yang di Semarang, Solo, Jogja dan lain sebagainya juga pulang untuk takziah.
Subhanallah, di saat sebagian orang kadang sangat sibuk memikirkan masalah mencari uang, ternyata saya pernah mendapatkan sedikit pengalaman dari warga Bayat. Warga masyarakat yang lain seharusnya mengikutinya yakni tatkala ada tetangganya meninggal dunia maka harus "jeda" sejenak. Salam.
Salatiga, 5 Mei 2021

Komentar
Posting Komentar