Siapa yang tidak mengenal Pak Soeharto? Bagi warga Indonesia, nama beliau tentu sudah tidak asing. Beliau memimpin negeri ini selama 32 tahun (1966-1998). Kepemimpinan beliau terkenal dengan nama era orde baru.
Beliau kerap mendapatkan kritikan dari berbagai elemen; mulai dari ulama, budayawan, seniman, penyanyi dangdut dan lain sebagainya. Salah satu ulama yang sering mengkritik beliau adalah Gus Dur. Sebagai contoh kecil adalah Gus Dur mengkritik masalah perayaan hari raya Imlek. Bagi Gus Dur, perayaan hari raya adalah keinginan setiap pemeluk agama yang tidak bisa dihindari.
Selain itu, Gus Dur juga aktif mengkritik kepemimpinan era orde baru dengan menggunakan tulisan yang kemudian dibukukan. Melalui ajudan khususnya, Gus Dur berbicara yang kemudian diketik melalui komputer (kalau dulu mesin ketik). Setelah terkumpul cukup banyak, diedit dan kemudian dibawa ke penerbit buku. Pada akhirnya buku karya Gus Dur dapat dibaca oleh warga masyarakat secara luas.
Salah satu seniman musik yang pernah masuk penjara adalah Rhoma Irama. Ia menciptakan lagu yang berjudul judi. Lagu tersebut ditengarai menyindir kepemimpinan Pak Soeharto. Meskipun sebelumnya berceramah dahulu menggunakan salah satu ayat di dalam Al-Qur'an ketika akan nyanyi di panggung, namun beliau ternyata tetap ditangkap dan berurusan dengan aparat kepolisan.
Ada juga Iwan Fals. Ia ditangkap oleh pihak yang berwajib gara-gara menciptakan lagu yang berjudul bento. Lagu tersebut ditengarai kependekan dari Beni Soeharto. Lagu tersebut juga mengkritisi pemerintah mengenai mobil yang banyak, harta meningkat, dan lain seterusnya.
Dari seorang budayawan ada Emha Ainun Najib. Tokok yang sering dipanggil Cak Nun ini sering mengkritisi pemerintah. Bahkan, ia juga merupakan salah satu dari sembilan orang yang dipanggil Pak Soeharto pada tahun 1998 ketika negara ini sedang memanas. Bersama Gus Dur dan lainnya, Cak Nun akhirnya meminta Pak Soeharto untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden.
Cak Nun juga aktif dalam menulis buku. Buku yang ia tulis sebagian besar berupa cerita. Di dalam buku yang ia tulis ada ribuan mutiara ilmu pengetahuan yang dapat digali. Misalnya, penggunaan nama Rumah Sakit itu bagi dia adalah kurang tepat. Menurutnya, yang seharusnya digunakan adalah Rumah Sehat.
Kata tersebut sebenarnya menyindir kepada rumah sakit yang sebagian besar masih kurang berbuat baik kepada warga masyarakat. Orang yang masuk ke rumah sakit zaman dahulu akan tambah semakin sakit; sakit hatinya dan juga sakit uangnya.
Barangkali, karena tulisan Cak Nun akhirnya pemerintah mau mengubah sistem. Sekarang ada yang namanya BPJS. Warga masyarakat akhirnya mendapatkan keringanan dalam hal masalah biaya tatkala masuk rumah sakit.
Baik Rhoma Irama maupun Iwan Fals ternyata pernah berurusan dengan pihak yang berwajib karena mengkritik pemerintah melalui sebuah lagu. Sementara Gus Dur dan Cak Nun dalam catatan sejarah tidak pernah berurusan dengan aparat. Mengapa? Karena mereka berdua itu mengkritik pemerintah melalui kumpulan tulisan, melalui sebuah buku. Mengkritik pemerintah dengan menggunakan sebuah buku sesungguhnya lebih berbobot, bermoral sekaligus bermartabat. Begitulah kekuatan karya ilmiah.
Bagi para pembaca sekalian, apabila mempunyai uneg-uneg ingin mengkritik pemerintah pusat maupun daerah, tulislah kritikan tersebut dalam bentuk tulisan. Bisa menulis menggunakan laptop, komputer atau bisa juga menulis secara manual menggunakan bolpoin dan buku. Sesederhana apapun kritikan tersebut sesungguhnya jauh lebih bermanfaat daripada mengomen pemerintah namun hanya menggunakan lisan. Yang jelas, mengkritik pemerintah lewat tulisan jauh lebih awet dan berwibawa. Salam.
Salatiga, 31 Mei 2021

Komentar
Posting Komentar