![]() |
| sumber gambar : radar kediri |
Di saat lembaga pendidikan sudah semakin maju, saya jadi teringat akan pondok pesantren tradisional (salafiyah) yang masih eksis menjaga keasliannya. Lembaga pendidikan ini menurut sejarah adalah lembaga pendidikan yang paling tua yang ada di Indonesia.
Ketika teknologi sudah semakin canggih, pondok pesantren tradisional masih tetap mempertahankan jati dirinya. Lembaga ini pada umumnya melarang santriwan-santriwati untuk membawa HP. Mungkin saja bagi sebagian orang akan berpikir bahwa pondok pesantren tradisional itu katrok, ndeso, ketinggalan zaman, dan lain sebagainya. Biarkan! Inilah konsekuensi yang harus diterima. Mau belajar di lembaga ini, silahkan. Tidak belajar di lembaga ini, juga tidak masalah.
Yang jelas, para ulama terdahulu sudah berpikiran maju untuk jangka panjang. HP memang teknologi canggih. Akan tetapi, bila direnungi secara mendalam, HP lebih banyak mempunyai konten yang negatif. Apalagi bila digunakan oleh anak yang belum saatnya, jelas akan lebih berbahaya.
Beberapa waktu yang lalu saya juga melihat berita di televisi mengenai orang tua yang memarahi kasir supermarket. Orang tua tersebut marah karena anaknya telah membeli pulsa sebanyak 800 ribu guna bermain game online melalui HP. Pedagang tentu tidak peduli karena ia juga bekerja di tempat itu. Pada umumnya yang namanya pedagang adalah melayani kepada setiap pembeli yang datang.
Di saat sebagian peserta didik banyak yang bergantung terhadap orang tuanya, pondok pesantren mempunyai nilai lebih yakni dalam hal kemandirian. Setiap santri belajar bersama dengan teman-temannya. Mereka juga mengurus segala sesuatunya secara mandiri. Orang tua tinggal mengirim uang dari rumah, maka anak di pesantren tinggal belajar menuntut ilmu.
Sebagian santri juga ada yang menjadi khodam kyai pondok. Mereka tidak mengandalkan kiriman uang dari orang tuanya. Mereka ngaji, setelah itu biasanya sambil mencangkul di sawah milik kyai pondok. Namun hal yang seperti itu zaman sekarang jumlahnya sudah semakin langka.
Di pondok pesantren tradisional juga diajarkan tentang dunia tirakat (baca: prihatin). Para santri diajarkan tentang hidup prihatin sejenak, guna menimba ilmu. Ini sangat berbeda dengan dunia kedokteran pada umumnya yang menganjurkan untuk makan empat sehat lima sempurna. Para santri justru dilatih untuk berpuasa dan makan seadanya.
Bagi saya, belum ada lembaga pendidikan yang mampu menyaingi pondok pesantren tradisional. Bila melihat perguruan tinggi, misalnya, masih sangat jauh dengan dunia pondok pesantren. Pondok pesantren biasanya memiliki ikatan kekeluargaan yang lebih kuat. Sehingga tidak mengherankan kalau ada seorang santri meskipun sudah lulus dari pesantren namun masih memiliki ikatan keluarga yang cukup kuat dengan teman-temannya. Alumni pondok pesantren tradisional biasanya masih mempunyai ikatan yang kuat.
Di zaman yang serba digital ini, kiranya perlu belajar dari pondok pesantren tradisional. Lembaga pendidikan ini ternyata sejak dahulu sampai sekarang masih utuh yakni tetap bertahan di tengah modernitas. Salam.
Salatiga, 14 Mei 2021

Komentar
Posting Komentar