Langsung ke konten utama

Mengubah Wajah Polri Secara Totalitas

image : polri.go.id

Rentetan bom di Tanah Air yang menyerang beberapa oknum Polri menjadikan pertanyaan, mengapa Polri selalu yang diincar oleh para teroris? Mengapa bagi sekelompok teroris kesatuan Polisi harus dimusnahkan? Mengapa teroris menganggap kalau Polisi adalah thoghut, misalnya? 


Bila memperhatikan kisah di dalam lingkungan sekitar, image anggota Polri masih kurang dihargai oleh warga masyarakat. Entah karena mengapa, purnawirawan Polri biasanya kurang begitu laku. Mau mendaftarkan diri menjadi satpam pabrik, misalnya, menurut beberapa karyawan pabrik sulit untuk diterima. 

Kisah lain yang berada di pusat mungkin akan menjadi pembelajaran yang sangat berarti dan sulit dihilangkan dari ingatan warga masyarakat. Kasus cicak vs buaya yang beberapa tahun mencuat di publik menjadi saksi sejarah kepada masyarakat bagaimana kinerja Polri yang mengurusi masalah hukum di negeri ini. Novel Baswedan yang sekarang cacat merupakan bukti nyata bahwa ada pihak-pihak tertentu yang menginginkan agar korupsi di negeri ini dapat tumbuh subur. 

Belakangan ini muncul istilah zona integritas Wilayah Bebas Korupsi (WBK). Beberapa Polres di Tanah Air sudah mampu meraih predikat tersebut. Akankah program tersebut berhasil? Akankah program tersebut mampu "menguasai" stigma masyarakat terhadap institusi kepolisian?

Mengubah Internal Polri Secara Totalitas
Disadari atau tidak, sebaik apapun kepolisian, maka akan tetap sulit mengubah stigma masyarakat terhadap institusi Polri. Sebagai contoh kecil ketika ada bencana alam, oknum TNI biasanya yang berada di garda terdepan. Sementara Polri, biasanya jarang muncul. Umpama muncul, jumlahnya biasanya tidak sebanyak satuan TNI. 

Polri memang mempunyai peranan yang besar di dalam masyarakat. Orang mau mengurus SIM, harus lewat Polantas. Orang mau membuat SKCK, harus pergi ke Polsek atau Polres. Bahkan, ketika ada tindak kejahatan di laut pun itu merupakan wewenang Polisi, yang dalam hal ini adalah Polair. 

Saking banyaknya urusan yang harus melewati Polri, maka menyebabkan kesempatan. Sebagian warga masyarakat akhirnya menyuap agar urusan surat-menyuratnya cepat selesai. Di sini, oknum pihak kepolisian akhirnya "membuka celah". Sehingga kalau ada yang menyuap yang harus disalahkan pertama sebenarnya adalah warga masyarakat. 

Di sinilah peran Polri. Institusi Polri harus mau mengubah birokrasi dari yang terkecil, misalnya tidak mau disuap ketika mengurusi pembuatan SIM. Akhir-akhir ini sudah cukup banyak Polantas yang berjalan lurus. Akankah mampu bertahan lama? 

Hanya institusi Polantas Polres yang mampu menjawabnya. Apabila Polri tidak mau disuap, maka wajah kepolisian akan semakin membaik. Sebaliknya, apabila masih ada oknum yang mau atau bahkan membuka kantong suap, maka warga masyarakat yang dapat menilainya sendiri mengenai marwah kepolisian. 

Mengakhiri tulisan ini, saya berharap agar semua oknum Polri tidak mau disuap. Semoga. 

Salatiga, 9 Juni 2021

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...