![]() |
| gambar : republika |
Kristenisasi bagi warga Salatiga, Magelang dan sebagian Kabupaten Semarang bukan merupakan hal asing. Mengapa? Karena daerah ini merupakan pegunungan yang tentunya berhawa dingin. Saya kurang tahu persis mengapa daerah pegunungan menjadi tempat yang "empuk" bagi pelaku program Kristenisasi.
Saya juga pernah bertemu dengan salah seorang anggota TNI di daerah Batu (Malang), Jawa Timur. Menurutnya, daerah Batu sedang menjadi sasaran pusat program Kristenisasi terbesar se-Asia Tenggara. Tempat ini cukup dingin. Di sana juga ada kampus Institut Injil Indonesia.
Ini berbeda dengan agama Islam yang tidak boleh memaksakan dalam memeluk agama. Dalam Islam sebenarnya juga ada istilah Islamisasi, namun kata ini merujuk dalam lembaga perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Islamisasi yang dimaksud adalah islamisasi ilmu pengetahuan yang digaungkan oleh tiga tokoh. Mereka adalah Prof. Azyumardi Azra, pendiri UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Prof. M. Amin Abdullah, penggagas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Prof. Imam Suprayogo, nahkoda UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Selama ini saya juga belum pernah mendengar istilah Katolikisasi, Hinduisasi, Budhaisasi, Konghucuisasi, Kejawenisasi, Kepercayaanisasi dan lain seterusnya. Yang saya dengar adalah kata Islamisasi dan Kristenisasi.
Di sebuah perkampungan di Kota Salatiga, saya menemukan sebuah perkampungan yang cukup menarik untuk diperbincangkan. Dalam satu RT, warga masyarakatnya sebagian besar beragama Kristen. Sementara yang beragama Islam hanya dapat dihitung dengan jari.
Menurut salah seorang warga masyarakat setempat yang juga merupakan teman saya, daerah tersebut awal mulanya beragama Islam. Oleh karena terdesak masalah ekonomi, akhirnya mereka berpindah agama. Tiap bulan mereka mendapatkan jatah beras dari gereja. Hal inilah yang mungkin menjadikan mereka menjadi sungkan apabila tidak memeluk agama Kristen.
Boleh percaya atau tidak, warga masyarakat pada umumnya merasa sungkan apabila sering dikasih makanan. Sebagai contoh adalah tatkala Presiden Jokowi masih menjabat sebagai Walikota Surakarta. Penataan Kota Surakarta (Solo) awal mulanya sangat susah. Setelah Pak Jokowi sering mengundang warga masyarakat dengan memberi makanan, warga masyarakat akhirnya bersedia untuk direlokasi. Warga masyarakat akhirnya mudah diatur, kota diperbaiki dan tentunya sekarang lebih indah bila dilihat.
Pertanyaannya, apabila ada program Kristenisasi, siapa yang salah?
Sebatas penelusuran yang saya tahu, program pembagian beras adalah ketika masih awal. Ketika sudah cukup lama, mereka tidak mendapatkan beras lagi dari gereja. Mau pindah Islam lagi jelas ribet karena harus mondar-mandir ke kantor kecamatan/disdukcapil untuk mengubah status agama.
Peran Orang Kaya Untuk Berbagi
Di sinilah peran penting orang kaya yang seharusnya mau berbagi terhadap sesama. Apabila para agniya' mau berbagi terhadap sesama agamanya sendiri, maka program Kristenisasi dapat diminimalisir atau bahkan digagalkan.
Namun anehnya, umat Islam sendiri kadang masih bersifat acuh tak acuh melihat tetangganya yang masih kesulitan untuk makan. Bila mau survei ke lapangan, umat Islam yang kesulitan dalam masalah makan sehari-hari sebenarnya masih cukup banyak. Mengapa tidak terlihat? Karena orang Jawa mempunyai sifat pendiam. Umpama mereka tidak bisa makan, mereka lebih suka diam, tidak gembar-gembor ke sana kemari. Mereka menganggap apabila tidak bisa makan berarti takdirnya sedang untuk berpuasa.
Masjid sudah semakin bagus, misalnya, namun tetangganya kadang dikesampingkan. Berlomba-lomba dalam infak untuk pembangunan masjid, namun tetangganya ada yang kelaparan kadang tidak mengetahuinya. Apabila orang kaya mau berbagi, sekali lagi, program Kristenisasi dapat digagalkan. Salam.
Salatiga, 3 Mei 2021

Komentar
Posting Komentar