Langsung ke konten utama

Keanehan Sebagian Orang Tua Zaman Sekarang


Bila memperhatikan anak kecil dan juga orang tua zaman sekarang, tentunya sudah agak sedikit berbeda dengan para orang tua terdahulu. Orang tua zaman dahulu boleh dikatakan sebagai raja. Apa yang dikatakan orang tua maka anak akan mengikuti perintahnya. 

Lain halnya zaman sekarang. Anak seakan-akan menjadi raja. Orang tua banyak yang kalah dengan anaknya. Anaknya ingin apa, maka orang tua menurutinya. Bahkan, boleh dikatakan orang tua hanya sebagai babu dari anaknya. 


Saya cukup sering melihat anak-anak setingkat SD bermain HP dengan seenaknya. Parahnya lagi, sebagian orang tua kadang malah membelikan HP untuk anaknya. Orang tua kadang berpikir, dengan membelikan HP anaknya maka anak tidak akan ketinggalan teknologi. 


Pemikiran seperti itu tentunya benar sekaligus salah. Namun bagi saya, bila masih SD dibelikan HP tentunya adalah sesuatu yang sangat salah besar. Makanya tidak mengherankan kalau setiap peserta didik setingkat SD dilarang membawa (apalagi mempunyai HP) oleh gurunya. Sepengetahuan saya, hanya setingkat SMA saja yang sudah boleh membawa HP. 


Anak kecil setingkat SD yang sudah dibelikan HP ibarat anak dewasa namun belum saatnya. Mereka kalau memegang HP sejak kecil ibarat dewasa namun dipaksa. Orang tua yang terlalu membebaskan anaknya sejak kecil, suatu saat bisa saja akan menyesal. 


Terkait dengan kisah ini, saya mempunyai cerita yang cukup unik. Semoga memberikan manfaat kepada khalayak luas. 


Alkisah, seorang anak kecil yang mana adalah tetangga saya sendiri sejak kelas satu SD sudah dibelikan HP. Orang tuanya memang berada. Semua anaknya pun sejak kecil sudah dibelikan HP. Apa yang terjadi? Ternyata meski sudah kelas lima SD namun dalam hal membaca masih belum cakap. Dalam hal membaca masih sering dieja. 


Apakah kalau anak kecil dibelikan HP akan menjadi pintar? Orang tuanya kadang berpikir dengan membelikan HP maka anaknya akan pintar. Melalui media internet informasi ilmu pengetahuan sangat mudah didapatkan. Semuanya ada di dalam HP kecil yang tinggal sentuh kemudian muncul semua fitur yang diinginkan. 


Di dalam musim pandemi seperti ini tentu akan rusak. Apakah anak akan belajar kalau dipegangi HP? Belajar paling hanya sebentar. Itu pun kalau diawasi orang tuanya. Sementara kalau tidak diawasi orang tuanya maka anak akan bermain yang tidak jelas; nonton YouTube, bermain game online, bermain tik-tok-an dan lain sebagainya. 


Walhasil, mendidik anak zaman sekarang tentunya lebih berat. Yang mendidik anak dengan hati-hati saja kadang hasilnya kurang sesuai dengan apa yang diinginkan, maka apalagi kalau mereka terlalu dibebaskan? Agar tidak menyesal di kemudian hari maka orang tua harus tegas. Lebih baik sekarang kelihatan sedikit kejam namun anaknya "selamat" daripada sekarang anaknya bahagia namun di kemudian hari anaknya menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu masa kecilnya. Salam. 


Salatiga, 16 April 2021 

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...