![]() |
| ilustrasi : boombastis.com |
Saya pernah mendengarkan cerita dari tetangga sebelah mengenai ulah oknum ulama yang memasang tarif. Cerita yang saya dapatkan mungkin ada di berbagai tempat. Mereka memanfaatkan Firman Tuhan dan Hadits Nabi untuk mencari uang. Mereka kadang sudah dengan percaya diri memasang tarif. Siapa saja atau kelompok yang tidak mampu untuk membayar uang sewanya, maka mereka tidak akan mau mengisi ceramah.
Oknum-oknum tersebut yang merusak citra dari seorang ulama (kyai dan ustadz). Ulama yang sebenarnya mengayomi masyarakat, wibawanya akhirnya menjadi luntur gara-gara kelakuan oknum yang kurang bertanggung jawab. Ulama yang sejatinya adalah pewaris nabi, kadang menjadi "perbincangan" di dalam masyarakat oleh karena ulah oknum yang kurang mampu menjaga citranya sebagai figur panutan warga.
Belum lama ini saya mendatangi seorang tukang pijat. Kedatangan saya dalam rangka ingin meminta tolong untuk meluruskan tangan saya yang baru saja terkilir. Ketika tangan saya dipijat, waduh rasanya sakit sekali.
Yang memijat saya namanya Pak Edi Kuswanto. Meski secara fisik beliau (maaf) tuna netra, namun semangat memijit ternyata tidak pernah pudar. Ada pasien datang, beliau melayaninya dengan semangat. Tidak ada pasien, beliau biasanya mengajari anaknya untuk membaca al-Qur'an.
Beliau sendiri sejak kecil beragama Katolik. Dalam perjalanan hidupnya, beliau akhirnya pindah dan masuk agama Islam. Beliau juga pernah mondok di pesantren tradisional, daerah Pekalongan. Setelah lulus, beliau kemudian menjadi seorang hafidz, orang yang hafal Al-Qur'an.
Hati saya ketika itu menangis. Seorang yang awalnya beragama Katolik, namun kini menjadi orang yang hafal Al-Qur'an dan itu tidak mudah. Ditambah lagi beliau yang sejak kecil memang tuna netra, ternyata tidak menyurutkan langkahnya untuk belajar dan menghafalkan kitab yang terdiri dari 114 surat.
Beliau kadang juga mengisi ceramah di kampung, masjid, musholla, jamaah pengajian dan lain sebagainya. Ketika ditanya masalah biaya atau tarif, beliau memilih untuk tidak menjawabnya. Dengan kata lain, beliau tidak mempermasalahkan masalah tarif. Mengisi pengajian ya fokus mengisi pengajian. Umpama mendapatkan amplop dari warga, itu adalah sebuah rezeki yang harus diterima.
Saat saya tanya mengapa menolak memasang tarif ceramah, beliau menjawabnya oleh karena merupakan sebuah amanah dari gurunya yang tidak boleh dilanggar. Beliau bercerita, pernah dipaksa oleh warga sebelah mengenai berapa biaya yang harus dikeluarkan umpama disewa untuk mengisi ceramah. Apa yang terjadi? Beliau malah menjawabnya tidak bisa mengisi ceramah kalau dipaksa menjawab masalah tarif.
Subhanallah, ternyata saya mendapatkan pelajaran yang begitu indah. Meskipun (maaf) cacat secara fisik, namun beliau ternyata hafal kitab suci Al-Qur'an. Kendati tuna netra, namun beliau mengajarkan kepada kita bahwa seorang ulama seharusnya belajar kepada beliau bahwa memasang tarif adalah sesuatu yang kurang etis. Di saat sebagian oknum ulama sudah berani memasang tarif, seharusnya berkaca pada beliau bahwa memasang tarif secara otomatis akan"menjatuhkan" citra ulama. Salam.
Gunung Merbabu, 21 Januari 2021

Komentar
Posting Komentar