Langsung ke konten utama

Menjadi Marbot Masjid

sumber gambar: mui.or.id

Tatkala masih kuliah, pekerjaan sampingan saya adalah menjadi marbot masjid. Sebagaimana marbot masjid pada umumnya, pekerjaan yang cukup banyak itu juga pasti saya lakukan. Awalnya memang berat. Setelah terbiasa melakukannya, maka pekerjaan itu pun terasa ringan. 

Setiap hari selalu menyapu masjid dan mengecek air. Setiap hari Jum'at harus mengepel lantai dan membersihkan karpet. Tiap Jum'at pula kadang harus mengisi khotbah. Menjadi imam masjid juga tidak ketinggalan. Bahkan, saat ada orang meninggal dunia pun kadang saya disuruh untuk mengisi sambutan, mewakili pihak keluarga. 

Mengajar ngaji (TPQ) adalah kegiatan sehari-hari yang tidak pernah bisa ditinggalkan. Belum lagi mengisi sambutan tatkala ada kegiatan tahlilan. Ditambah lagi mengajar di rumah tetangga, membuat hidup saya seakan tidak mempunyai waktu luang sebagai seorang mahasiswa yang juga harus kuliah dan mengerjakan tugas kampus. Semuanya akan menjadi cerita kelak ketika saya mempunyai seorang anak dan juga cucu. 

Saat menjadi marbot masjid, saya pernah mempunyai pemikiran yang agak "radikal". Pemikiran tersebut ialah tentang membubarkan takmir masjid. Mengapa? Karena masjid yang saya tempati dulu tidak transparan masalah dana. Uang kas hanyalah catatan semata. 

Menyikapi masalah tersebut, ada seorang anggota DPR dari partai kuning yang ketika itu juga menjabat sebagai anggota takmir masjid. Beliau mengatakan kepada saya di depan forum, " Kamu ini anak kapan?". Saya pun diam. Para anggota takmir masjid yang lainnya pun juga turut diam. 

"Masalah transparansi dana itu bukan urusan kamu. Kamu nggak usah berpikir yang aneh-aneh. Yang penting kegiatan masjid tetap berjalan," sambung anggota DPR berlogo 'pohon beringin' yang sekarang sudah purna tugas dengan penuh semangat. 

"Bagi saya, masalah transparansi dana itu menjadi sangat penting. Ia harus dinomorsatukan dan tidak boleh diabaikan. Kalau memang sebuah masjid tidak transparan, mending takmir masjid bubar saja. Masalah masjid biar diurusi oleh 'yang punya masjid'," ucap saya dengan menghisap rokok kretek 76. 

Saya dulu berpikiran, umpama masjid tidak jujur masalah keuangan, warga masyarakat pasti akan "berbicara" di belakang. Warga masyarakat banyak yang nggrundel masalah dana masjid. Meskipun begitu, namun warga masyarakat tidak ada yang berani mengungkapkan uneg-uneg-nya. Mereka merasa sungkan untuk mengungkapkannya karena dalam tradisi Jawa istilah tersebut adalah saru (kurang etis). 

"Selama ini warga masyarakat mengisi kotak amal masjid, lalu uangnya pergi kemana?" ungkap salah seorang warga yang disampaikan kepada saya. 

Menanggapi hal tersebut saya kemudian mengadakan rapat kecil-kecilan bersama dengan para takmir masjid. Intinya, bagaimana agar bendahara masjid itu segera ganti. Atau paling tidak harus ada bendahara yang kedua, yakni sebagai pengawas. Dalam pembicaraan yang cukup lama itu, alhamdulilah sebagian besar anggota takmir banyak yang setuju dengan argumen saya. 

Logika sederhananya, apabila uang masjid itu transparan, maka warga masyarakat akan semakin merasakan bahagia. Dari rasa bahagia itulah mereka juga akan lebih bersemangat untuk mengisi kotak amal. Dan benar saja, setelah masjid itu "bersih" ternyata pendapatan kotak amal selalu meningkat dari waktu ke waktu. 

Kini, masjid sudah semakin bagus. Bangunannya sudah dipugar menjadi semakin elok. Jumlah pengunjung masjid juga semakin banyak. Kotak amal masjid juga selalu membahagiakan. 

Apa yang saya tulis sesungguhnya ingin mengatakan bahwa kita jangan mudah meremehkan orang lain. Lihatlah pemikirannya, jangan lihat orangnya! Bermanfaat bagi warga masyarakat atau tidak; berpikir maju atau tidak; dan begitu pula seterusnya. Apabila kita melihat orang lain hanya dengan mengandalkan fisik atau usia semata, sesungguhnya pemikiran kita kurang maju. Salam. 

Salatiga, 6 Maret 2021

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...